JURNALZONE.ID – Krisis likuiditas hebat melanda industri keuangan digital China setelah platform perdagangan logam mulia daring, Jie Wo Rui, secara sepihak membekukan akses penarikan dana nasabah. Insiden ini memicu kepanikan massal yang memaksa Pemerintah Distrik Luohu, Shenzhen, melakukan intervensi darurat dengan mengambil alih operasional perusahaan secara penuh.
Intervensi Satgas Khusus dan Skala Kerugian Nasabah
Langkah pengambilalihan ini dilakukan setelah antrean pengajuan penarikan dana pada sistem Jie Wo Rui menembus angka 20.000 investor. Estimasi potensi dana yang tertahan mencapai lebih dari 10.000.000.000 yuan atau setara dengan Rp24.000.000.000.000, yang melibatkan setidaknya 150.000 pengguna terdaftar.
Pembekuan transaksi penarikan tunai tersebut resmi diberlakukan oleh Jie Wo Rui sejak tanggal 20 Januari 2026. Situasi semakin memanas ketika para investor dari berbagai wilayah China mengepung kantor pusat di Shenzhen guna memprotes pembatalan pengiriman fisik logam mulia yang telah mereka bayar secara lunas.
Pemerintah setempat melalui tim audit khusus kini tengah memverifikasi data utang serta memantau manajemen inti yang dilarang meninggalkan lokasi. Langkah ini diambil untuk memastikan proses penanganan klaim berjalan transparan di tengah laporan adanya pengalihan dana top-up nasabah ke rekening pribadi atau akun Alipay perorangan.
Modus “Emas Pra-Penetapan Harga” dan Risiko Gagal Bayar
Jie Wo Rui menarik minat investor melalui mini-program di WeChat dengan skema “emas pra-penetapan harga” yang menawarkan leverage tinggi. Model bisnis ini memungkinkan nasabah mengunci harga emas tertentu dengan setoran modal kecil untuk transaksi di masa depan, yang sangat diminati saat harga emas global melonjak sejak 2023.
Namun, lonjakan harga emas yang semakin tajam pada akhir 2025 hingga awal 2026 justru menjadi bumerang bagi platform dengan struktur keuangan lemah. Pengacara investasi berbasis Shenzhen, Huang Jian, menyebutkan bahwa banyak platform kecil tidak memiliki mekanisme lindung nilai (hedging) yang memadai untuk menghadapi penarikan dana secara massal.
“Banyak pemilik platform kehilangan seluruh tabungan mereka dalam semalam karena harus menutup posisi saat harga emas melonjak,” tegas Huang Jian sebagaimana dikutip dari Bloomberg pada Selasa, 3 Februari 2026. Kondisi ini memicu efek domino yang memaksa platform serupa seperti Yundiandang dan Baoma Buying Gold untuk turut menghentikan operasional secara mendadak.
Hingga 28 Januari 2026, manajemen Jie Wo Rui menawarkan skema penyelesaian berupa pengembalian dana 20% dari pokok atau cicilan bertahap dengan syarat nasabah menandatangani surat pengampunan pidana. Opsi tersebut ditolak keras oleh mayoritas investor yang menuntut pengembalian aset secara utuh di bawah pengawasan ketat pemerintah China.