Jurnalzone.id – Pendiri SoftBank Group, Masayoshi Son, mengumumkan rencana ambisius untuk mengerahkan satu miliar AI agent atau agen kecerdasan buatan di dalam perusahaannya pada akhir tahun ini. Pernyataan yang disampaikan dalam sebuah konferensi bisnis di Tokyo pekan lalu ini muncul di tengah kebingungan global mengenai definisi dan kapabilitas sebenarnya dari teknologi agen AI, yang kini menjadi sorotan utama industri teknologi.
Visi Produktivitas Seribu Tangan
Dalam pidatonya, Masayoshi Son secara puitis menggambarkan bagaimana sistem agen AI ini akan mampu berpikir sendiri, mereplikasi diri, dan bekerja 24 jam sehari tanpa henti. Menurutnya, para agen ini akan berpartisipasi dalam rapat, melakukan panggilan telepon, hingga mengirim email secara mandiri.
“Mereka akan berevolusi dengan sendirinya,” ujar Son.
Ia membayangkan sebuah lonjakan produktivitas yang luar biasa. Dilansir dari Bloomberg, Son menggunakan analogi Senju Kannon, sosok dalam ajaran Buddha dengan seribu tangan dan mata, untuk menggambarkan kekuatan yang akan dimiliki para pekerja dengan bantuan agen AI.
Euforia dan Paradoks Industri
Antusiasme Son sejalan dengan para pemimpin teknologi lainnya. CEO OpenAI, Sam Altman, pada 18 Juli lalu menyebut fitur agen terbaru di ChatGPT sebagai “momen yang benar-benar terasa seperti AGI (artificial general intelligence)”. AGI sendiri merupakan istilah untuk AI yang setara atau lebih pintar dari manusia, meskipun definisinya juga masih diperdebatkan.
Namun, di balik euforia tersebut, terdapat sebuah paradoks. Sebuah laporan McKinsey yang terbit bulan lalu menyoroti “paradoks GenAI”, di mana hampir delapan dari sepuluh perusahaan yang menggunakan AI generatif melaporkan tidak ada dampak signifikan pada keuntungan (bottom-line).
Laporan tersebut menyebut agen AI sebagai kunci untuk memecahkan paradoks ini, tetapi juga memperingatkan adanya “kelas risiko sistemik baru”, termasuk “otonomi yang terkendali”.
Jalan Panjang Menuju Otonomi Penuh
Analis industri mengingatkan bahwa jalan untuk menanamkan kemampuan pengambilan keputusan layaknya manusia ke dalam program AI masih sangat panjang. Meskipun agen AI saat ini telah menunjukkan kehebatan dalam tugas berbasis teks dan pekerjaan repetitif, otonomi penuh di tempat kerja diperkirakan masih berjarak setidaknya setengah dekade lagi.
Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan peningkatan infrastruktur teknologi besar-besaran, perlindungan baru untuk mengatur data sensitif, serta penetapan standar pertanggungjawaban jika agen AI melakukan kesalahan. Tanpa definisi yang jelas, target satu miliar agen AI bisa berarti segalanya, sekaligus tidak berarti apa-apa.