JURNALZONE.ID – Akun pengamat geografi dan mitigasi bencana, Georitmus, menyoroti kondisi topografi Kota Malang melalui unggahan di media sosial X pada Kamis, 5 Desember 2025. Dalam analisisnya, Georitmus menjelaskan alasan ilmiah mengapa kota yang dikenal sejuk ini tetap memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana banjir, meskipun secara geografis terletak di kawasan dataran tinggi yang seharusnya aman dari genangan air.
Topografi Unik Berbentuk Mangkuk
Berdasarkan data yang disampaikan, Kota Malang memiliki karakteristik geografis yang cukup unik dan kompleks. Wilayah ini tidak berdiri di tanah datar yang terbuka lepas, melainkan dikepung oleh barisan pegunungan yang membentuk formasi tertutup.

Dalam unggahannya, akun @zakiberkata menjelaskan detail ketinggian wilayah tersebut:
“Kota Malang berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata kota ± 440–506 mdpl.”
Dari pernyataan tersebut, ditegaskan bahwa secara elevasi, Malang memang berada jauh di atas permukaan laut. Namun, ketinggian ini tidak serta-merta membebaskan kota tersebut dari risiko hidrometeorologi karena faktor bentuk bentang alamnya.
Faktor Kerentanan Banjir
Lebih lanjut, Georitmus memaparkan bahwa posisi Kota Malang sebenarnya terperangkap dalam sebuah cekungan besar. Kondisi ini membuat aliran air dari pegunungan di sekitarnya, seperti Gunung Arjuno dan Gunung Kawi, cenderung berkumpul ke arah kota jika tidak dikelola dengan sistem drainase yang masif.
Mengenai fenomena ini, Georitmus menambahkan:
“Meski di dataran tinggi Kota ini berada di cekungan (basin) yang dikelilingi pegunungan dengan topografi membentuk mangkuk hingga menjadi salah satu penyebab Malang rentan banjir.”
Penjelasan ini memberikan gambaran visual bahwa Kota Malang ibarat dasar sebuah mangkuk. Ketika hujan deras mengguyur wilayah pegunungan di sekelilingnya, air akan turun dan tertampung di area cekungan tersebut, mengakibatkan genangan atau banjir yang kerap terjadi di beberapa titik kota saat musim penghujan tiba.





