Jurnalzone.id – Tiongkok kini mengalihkan fokus strategi mata uang digitalnya dari yuan digital ke pengembangan stablecoin yang dipatok pada yuan lepas pantai (CNH). Dilansir dari laporan Sina Finance pada pertengahan Juli, Conflux Network, sebuah blockchain layer 1 yang didukung Shanghai, telah bermitra dengan perusahaan fintech AnchorX dan Eastcompeace Technology untuk meluncurkan stablecoin tersebut. Proyek ini menyasar fasilitasi perdagangan lintas batas di negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, dan Kazakhstan.
Chief Technology Officer Conflux, Dr. Guang Yang, menyatakan bahwa proyek ini selaras dengan program riset nasional Tiongkok. “Kami sedang menguji coba pembayaran lintas batas dengan stablecoin di seluruh negara Belt and Road,” ujarnya kepada The Defiant.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa prioritas utama proyek ini adalah keamanan dan audit untuk memenuhi kebutuhan adopsi yang luas. Sementara itu, Product Lead AnchorX, Jozey Zhou, menjelaskan bahwa stablecoin mereka, AxCNH, difokuskan pada stabilitas dan transparansi tanpa menawarkan imbal hasil (yield).
Pergeseran strategi ini menandakan perubahan besar setelah upaya bertahun-tahun untuk mempromosikan yuan digital kurang mendapat traksi global. Media yang terafiliasi dengan pemerintah Tiongkok, Securities Times, bahkan mendesak otoritas untuk segera bertindak agar tidak kehilangan “peluang emas” untuk meningkatkan pengaruh yuan di luar negeri.
Langkah ini juga dilihat sebagai respons terhadap kemajuan legislasi stablecoin dolar di Amerika Serikat melalui GENIUS Act. Meskipun Tiongkok masih melarang perdagangan kripto, Hong Kong berencana memperkenalkan kerangka lisensi stablecoin mulai 1 Agustus, yang berpotensi membuka ruang eksperimen yang lebih kondusif.



