Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), kembali menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS, menandakan pergeseran prioritas kebijakan dari menekan inflasi menjadi melindungi lapangan kerja.
Langkah terbaru ini menegaskan fokus utama The Fed untuk mempertahankan momentum pekerjaan dan mencegah lonjakan pengangguran. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga stabil sepanjang tahun untuk menekan inflasi, namun data terbaru yang menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja memaksa pembuat kebijakan mengubah strategi.
Fokus Beralih ke Lapangan Kerja
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyoroti bahwa ketidakpastian prospek ekonomi masih tinggi. Langkah pelonggaran ini diambil meskipun data inflasi masih berada di atas target tahunan 2%.
“Ketidakpastian mengenai prospek ekonomi tetap tinggi,” tulis FOMC dalam pernyataan resminya.
“Komite menilai risiko terhadap lapangan kerja meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dan tetap memperhatikan mandat ganda The Fed untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja maksimal.”
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa The Fed mengambil pendekatan preventif untuk mengantisipasi risiko resesi ketenagakerjaan, meskipun sebagian pelaku pasar khawatir langkah ini berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi.
Perpecahan Internal dan Akhir Era Pengetatan
Keputusan untuk menurunkan suku bunga kali ini tidak diambil secara bulat, mencerminkan adanya ketegangan internal di tubuh The Fed mengenai risiko mana yang lebih mendesak.
Dua anggota dewan menentang langkah tersebut dengan pandangan yang berlawanan. Stephen Miran dilaporkan menginginkan pemotongan yang lebih dalam sebesar 50 basis poin, menilai langkah agresif diperlukan untuk mencegah penurunan tajam dalam perekrutan tenaga kerja.
Sebaliknya, Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, justru memilih untuk menahan suku bunga demi menghindari kebangkitan inflasi yang berlebihan.
Selain menurunkan suku bunga, The Fed juga mengumumkan penghentian program pengetatan kuantitatif (Quantitative Tightening/QT) mulai 1 Desember. Kebijakan ini, yang sebelumnya mengurangi likuiditas dengan menjual surat berharga pemerintah, kini dihentikan untuk menambah likuiditas ke sistem keuangan.
Langkah ganda ini dikomentari oleh Ellen Zentner, Kepala Ekonom Morgan Stanley.
“The Fed sedang berjalan di atas tali tipis antara menjaga lapangan kerja dan menahan inflasi agar tidak kembali melonjak,” ujarnya.
Keputusan Diambil di Tengah Minimnya Data
Proses pengambilan keputusan kali ini dihadapkan pada tantangan unik: minimnya data ekonomi terbaru. Penutupan sebagian pemerintahan federal (government shutdown) yang berlangsung sejak 1 Oktober menyebabkan penundaan publikasi data ekonomi utama, termasuk laporan ketenagakerjaan dan data inflasi produsen.
Michael Feroli, Ekonom JPMorgan, menyebut situasi ini membuat The Fed sulit mengambil keputusan berbasis data empiris.
“The Fed saat ini terbang dengan radar kabur,” ujar Feroli. “Tanpa data tenaga kerja dan inflasi yang lengkap, setiap keputusan kebijakan didasarkan pada ekspektasi dan risiko, bukan pada bukti empiris.”
Satu-satunya data penting yang dirilis adalah Indeks Harga Konsumen (CPI) September, yang menunjukkan inflasi sedikit melandai, memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan.
Dengan pemotongan ini, suku bunga acuan AS kini berada di level terendah sejak Desember 2022, yang diharapkan dapat menurunkan biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis.



