JURNALZONE.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS di pasar spot Jakarta dibuka mengalami penguatan pada perdagangan Kamis (11/12/2025). Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 25 poin atau setara 0,15 persen ke posisi Rp16.663 per dolar AS, membaik dari penutupan sebelumnya di level Rp16.688 per dolar AS.
Penguatan ini dinilai oleh pengamat pasar dipicu oleh sentimen global terkait kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pengaruh Kebijakan The Fed
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa pergerakan positif rupiah pagi ini tidak lepas dari keputusan pemotongan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed. Menurutnya, respons pasar terhadap kebijakan global tersebut memberikan dorongan bagi mata uang lokal, meskipun pergerakannya diprediksi tidak akan terlalu agresif.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat terbatas di kisaran Rp16.640-Rp16.690, dipengaruhi oleh sentimen global pemotongan bunga The Fed,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Latar belakang keputusan The Fed ini didasarkan pada data ekonomi AS yang menunjukkan perkembangan dengan kecepatan moderat. Ketua The Fed, Jerome Powell, mencatat adanya perlambatan dalam peningkatan lapangan kerja tahun ini, sedikit kenaikan tingkat pengangguran hingga September, serta inflasi yang merangkak naik sejak awal tahun. Oleh karena itu, pemangkasan suku bunga diharapkan mampu menyeimbangkan target lapangan kerja maksimum dan menekan inflasi ke angka 2 persen dalam jangka panjang.
Sentimen Domestik Menahan Laju Rupiah
Meskipun terdapat dorongan positif dari sisi eksternal, Rully menilai penguatan rupiah berpotensi tertahan oleh faktor internal. Kondisi ekonomi domestik, khususnya penanganan bencana banjir di Sumatera, memberikan sentimen negatif yang membuat investor cenderung berhati-hati.
Hal ini tercermin dari penurunan minat investor asing pada instrumen keuangan negara baru-baru ini. Penurunan partisipasi asing ini menjadi indikator bahwa pelaku pasar masih wait and see terhadap stabilitas domestik serta data ekonomi global lanjutan.
“Hal tersebut terlihat dari minat asing pada lelang SUN Selasa (9/12/2025) yang turun (45,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya). Selain itu juga pelaku pasar masih berhati-hati terhadap data ekonomi AS yang akan rilis ke depan,” ujar Rully.





