JURNALZONE.ID – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan segera mengumumkan penghentian kebijakan pengetatan neraca atau quantitative tightening (QT). Dilansir dari Reuters.com (28/10), ekspektasi ini menguat tajam di kalangan analis menyusul kekhawatiran terhadap kondisi likuiditas di pasar uang yang semakin mengetat.
Sejumlah ekonom bahkan memprediksi pengumuman akhir QT dapat dilakukan pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Langkah tersebut diprediksi akan diambil bersamaan dengan penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%. Beberapa analis juga memproyeksikan The Fed akan kembali melakukan ekspansi neraca (quantitative easing/QE) dalam waktu dekat.
Sinyal Pengetatan Berlebih
Perubahan pandangan pasar ini dipicu oleh kenaikan tak terduga pada suku bunga pasar uang, termasuk suku bunga dana federal (fed funds rate). Indikator tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa The Fed telah menarik likuiditas terlalu banyak dari sistem keuangan.
Banyak ekonom menilai, jika The Fed ingin tetap menjaga kendali atas suku bunga dana federal, maka ruang untuk melanjutkan QT kini sudah tertutup.
“Kami kini memperkirakan FOMC akan mengumumkan akhir QT minggu depan,” kata analis Deutsche Bank dalam laporannya, merujuk pada perkembangan pasar uang dan keinginan The Fed menjaga transisi kebijakan tetap mulus.
Ekonom Derek Tang dari LH Meyer menambahkan, “Bukan berarti mereka pasti menghentikannya pada pertemuan kali ini, tetapi saya tidak akan terlalu terkejut jika mereka melakukannya.”
Data Konfirmasi Tekanan Likuiditas
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, sebab data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan fakta bahwa tingkat pinjaman antarbank (interbank lending rate) kini naik lebih cepat dibanding suku bunga dana federal.
Rata-rata suku bunga antarbank semalam (SOFR) dilaporkan telah menembus 5,34% pada akhir Oktober. Level ini berada lebih tinggi dari kisaran target fed funds rate The Fed saat ini, yaitu 5,25%–5,50%. Hal ini menunjukkan bank-bank mulai saling menahan cadangan—tanda klasik bahwa likuiditas sistemik mulai mengering.
Sementara itu, dilansir dari Reuters, cadangan perbankan di The Fed per 24 September telah turun mendekati US$3 triliun. Angka ini merupakan level terendah sejak 2019, yang disebabkan oleh kombinasi penarikan dana pemerintah, kenaikan penerbitan surat utang, dan berlanjutnya QT.
Proyeksi Intervensi The Fed
Sejak memperbesar neracanya menjadi sekitar US$9 triliun pada 2022 selama pandemi, The Fed telah menurunkannya ke level US$6,6 triliun melalui pembiaran jatuh tempo obligasi pemerintah dan surat berharga berbasis hipotek (MBS).
Namun, laju QT yang melambat kini menimbulkan pandangan baru bahwa The Fed perlu segera menambah kembali likuiditas pasar untuk mencegah krisis seperti krisis repo tahun 2019.
Analis J.P. Morgan menilai, setelah penghentian QT, The Fed sebaiknya segera melakukan intervensi pasar sementara dan menurunkan suku bunga Standing Repo Facility. Lembaga itu juga memperkirakan ekspansi neraca (QE) baru akan dimulai pada kuartal I 2026, yang didukung prediksi Evercore ISI berupa pembelian bersih sekitar US$35 miliar per bulan, dengan fokus pada obligasi pemerintah AS (Treasury bills).