Sesi I Perdagangan Saham BMRI Turun Hampir 3%

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Saham BMRI

JURNALZONE.ID – Pergerakan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan sesi I, Kamis (27/11/2025). Saham bank pelat merah ini terpantau anjlok sebesar 2,89 persen ke level Rp 4.880 per lembar saham sekitar pukul 11.26 WIB, yang dipicu oleh tingginya volume aksi jual di pasar reguler.

Tekanan Jual Bersih yang Tinggi

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, koreksi harga ini disertai dengan aktivitas transaksi yang cukup padat. Tercatat sebanyak 65,63 juta lembar saham BMRI telah diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 13.816 kali transaksi, mencatatkan total nilai transaksi sebesar Rp 322,6 miliar.

Penurunan tajam ini disinyalir kuat akibat dorongan aksi jual para pelaku pasar yang cukup besar. Mengutip data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham Bank Mandiri membukukan nilai penjualan bersih (net sell) mencapai Rp 144,1 miliar. Angka tersebut menempatkan BMRI sebagai emiten dengan catatan net sell tertinggi kedua di antara saham-saham lainnya pada sesi perdagangan siang ini.

Tren negatif ini seolah melanjutkan performa kurang memuaskan dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Tercatat pada 25 November, saham BMRI ditutup melemah 1,47 persen, kemudian bergerak stagnan pada 26 November. Kondisi ini berbalik arah setelah sebelumnya sempat konsisten menghijau pada periode 19 hingga 24 November.

Prospek dan Rekomendasi Analis

Meskipun harga saham sedang mengalami kontraksi, Samuel Sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emiten ini. Analis Samuel Sekuritas, Prasetya, mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BMRI dengan target harga Rp 5.100. Target tersebut didasarkan pada estimasi Price to Book Value (PBV) tahun 2026 sebesar 1,46 kali.

“Setelah hasil kuartal III-2025, kami mempertahankan estimasi laba bersih BMRI dan memperkirakan NIM mulai pulih pada kuartal berikutnya, ditopang oleh penurunan biaya dana serta kuatnya rasio pencadangan yang mampu meredam risiko kualitas aset,”

Dari pernyataan Prasetya tersebut, dijelaskan bahwa keyakinan analis didorong oleh potensi pemulihan Net Interest Margin (NIM) dan penurunan biaya dana (cost of funds) yang diprediksi akan memperkuat fundamental bank di kuartal mendatang, serta rasio pencadangan yang dinilai solid.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini