JURNALZONE.ID – Kepanikan luar biasa menyapu bursa saham pada Perdagangan Sesi I, Kamis (29/1/2026), yang mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas ke zona merah pekat. Pada pukul 12:00 WIB, IHSG terpantau ambruk 5,91% atau kehilangan 492,09 poin hingga terdampar di level 7.828,47.
Pencapaian negatif ini dipicu oleh sentimen administratif Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi free float saham Indonesia, yang sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) karena koreksi indeks sempat menyentuh 8%.
Namun demikian, di tengah lautan merah ini, sektor perbankan menunjukkan anomali pergerakan yang sangat kontras hingga jeda siang ini.
BBRI: Melaju Sendirian Saat Bursa ‘Kebakaran’
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) secara mengejutkan mantap melaju di jalur hijau saat bursa saham dilanda kekacauan hebat. Saham bank pelat merah ini terlihat melenggang penuh percaya diri ketika bursa saham secara umum dilanda ‘kebakaran’.
Pencapaian menarik terlihat pada pukul 10:53 WIB, di mana harga saham BBRI tercatat di level Rp3.640 atau melesat 1,39% dibandingkan hari sebelumnya. Memasuki akhir Perdagangan Sesi I pukul 11:59 WIB, BBRI masih konsisten bertahan di zona hijau pada level Rp3.600.
BBCA: Melemah di Tengah Rencana Buyback Jumbo
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tidak mampu membendung arus tekanan pasar meski telah menyiapkan strategi pertahanan internal. Hingga penutupan Perdagangan Sesi I, saham BBCA terkoreksi cukup dalam sebesar 3,20% ke level Rp6.800 per lembar saham.
Namun demikian, penurunan ini terjadi di tengah rencana besar perseroan yang mengalokasikan dana Rp5 triliun untuk aksi buyback demi menjaga stabilitas harga. Investor tampaknya masih menunggu eksekusi nyata dari rencana tersebut sementara kapitalisasi pasar BBCA tertahan di angka Rp829,89 triliun.
BBNI: Mengalami Koreksi Terdalam di Sektor Bank
Nasib kurang beruntung dialami oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang harus terkulai lemas menghadapi gempuran aksi jual. Pada akhir Perdagangan Sesi I, harga saham BBNI anjlok hingga 4,73% dan bertengger di posisi Rp4.230 per lembar.
Pencapaian ini menempatkan BBNI sebagai bank dengan koreksi terdalam di antara jajaran Big Four perbankan siang ini. Dengan rasio P/E yang kini menyentuh 7,78 kali, saham BBNI mencerminkan besarnya tekanan psikologis investor terhadap prospek makro ekonomi saat ini.
BMRI: Terpangkas Mengikuti Pelemahan Indeks
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga harus merelakan posisinya tergerus mengikuti arus pelemahan IHSG yang sangat dalam. Pada penutupan Perdagangan Sesi I, BMRI mencatatkan penurunan sebesar 2,85% ke level Rp4.430 per unit saham.
Meskipun kapitalisasi pasar masih terjaga di level Rp409,33 triliun, sentimen negatif pasar membuat BMRI sulit untuk berbalik arah ke zona positif. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi Sesi II dengan tingkat kewaspadaan tinggi mengingat volatilitas yang masih sangat liar.