JURNALZONE.ID – Siapa yang tidak kenal dengan Pemiliki OpenAI ini. Jadi, waktu itu CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkapkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada nasib pekerja generasi tua yang mendekati masa pensiun dibandingkan anak muda yang baru lulus kuliah. Menurutnya, dalam podcast “Huge Conversations“ yang kami kutip pada Kamis (14/8), generasi muda justru memiliki kemampuan adaptasi terbaik terhadap perubahan teknologi, sehingga dapat memanfaatkan AI sebagai peluang besar.
Adaptasi Menjadi Kunci Utama untuk Bertahan
Sam Altman tidak menampik bahwa beberapa jenis pekerjaan akan hilang akibat otomatisasi yang didorong oleh AI. Namun, ia melihat ini sebagai siklus perubahan teknologi yang selalu terjadi sepanjang sejarah.
“Saya rasa memang benar beberapa pekerjaan akan sepenuhnya musnah. Hal seperti ini selalu terjadi dan anak muda adalah kelompok terbaik dalam beradaptasi untuk perubahan,” kata Altman dalam podcast tersebut.
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa kunci untuk bertahan di tengah disrupsi teknologi adalah kemampuan beradaptasi. Altman bahkan menyatakan jika dirinya berusia 22 tahun saat ini, ia akan merasa sangat bersemangat karena potensi AI. “Anak muda memiliki akses terhadap tool-tool canggih yang bisa membuat mereka mengerjakan banyak hal yang dulu memerlukan ratusan orang,” tambahnya.
Tantangan Generasi Tua di Dunia Kerja
Kekhawatiran Altman justru tertuju pada kelompok pekerja berusia lanjut yang mungkin kesulitan untuk meningkatkan kompetensi (upskilling) dan mempelajari teknologi baru seperti AI. Pandangan ini didukung oleh beberapa survei.
Dilansir dari survei AARP tahun lalu, mayoritas warga AS berusia 50 tahun ke atas (85%) mengaku pernah mendengar soal AI, tetapi kurang dari sepertiganya yang antusias menyambut teknologi itu. Selain itu, hanya dua dari lima pekerja generasi tua yang mengklaim memiliki pengetahuan memadai tentang AI.
Survei lain pada Mei lalu juga menemukan 61% pekerja di kelompok usia ini menilai AI sebagai ancaman yang berpotensi menggantikan mereka.
Pandangan CEO Teknologi Lainnya
Pandangan mengenai dampak AI juga disuarakan oleh pimpinan perusahaan teknologi lainnya. CEO Nvidia, Jensen Huang, belum lama ini menyatakan bahwa AI justru menyamakan kedudukan dengan memungkinkan siapa pun membuat kode melalui perintah bahasa alami. Namun, Huang memperingatkan bahwa karyawan yang tidak menggunakan AI akan digantikan oleh mereka yang dapat memanfaatkannya.
Sementara itu, CEO Anthropic, Dario Amodeo, memberikan prediksi yang lebih suram. Pada Mei lalu, ia memprediksi bahwa AI dapat menghapus seluruh pekerjaan tingkat pemula (entry-level) dan pekerjaan kerah putih (white-collar) dalam lima tahun ke depan.
Baca juga: AI Hapus Pekerjaan, Tapi Lahirkan Karier Baru di Antariksa





