Saham SUPA Ambles ke Batas ARB Hari Ini

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Harga Saham SUPA

JURNALZONE.ID Harga saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mengalami koreksi dalam hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) pada perdagangan Senin (22/12/2025) pagi. Saham bank digital milik Grup Emtek ini tercatat merosot 14,63 persen ke level Rp1.050 per lembar hingga pukul 09:10 WIB.

Padahal, emiten ini baru saja resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (17/12/2025) lalu. Berdasarkan data perdagangan, transaksi saham SUPA pagi ini melibatkan 276 juta lembar saham dengan nilai mencapai Rp316,8 miliar.

Fluktuasi Harga Pasca-IPO

Sejak hari pertama melantai di bursa, saham SUPA sebenarnya menunjukkan performa yang cukup agresif. Saat pembukaan perdana, harganya sempat melesat 24,4 persen atau menyentuh Auto Reject Atas (ARA) ke level Rp790, jauh di atas harga penawaran perdana (IPO) yang dipatok sebesar Rp635 per saham.

Mengenai langkah melantai di bursa ini, Presiden Direktur Superbank Tigor Siahaan mengungkapkan bahwa aksi korporasi tersebut merupakan awal dari fase pertumbuhan baru bagi perusahaan.

“Dengan dukungan pemegang saham dan ekosistem digital yang kuat, kami semakin siap memperluas akses kredit, mempercepat inovasi produk, dan menghadirkan layanan finansial yang aman dan relevan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Modal yang diperoleh dari IPO ini akan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang kami,” kata Tigor.

Dari pernyataan tersebut, pihak manajemen menekankan bahwa fokus utama pasca-IPO adalah penguatan struktur modal untuk mendukung ekspansi bisnis di masa depan. Perusahaan sendiri berhasil meraup dana segar sebesar Rp2,79 triliun dari pelepasan 4,4 miliar saham baru kepada publik.

Rencana Penggunaan Dana Publik

Lansiran data dari prospektus perusahaan menyebutkan bahwa mayoritas dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi bisnis. Sekitar 70 persen dialokasikan sebagai modal kerja guna memperkuat penyaluran kredit, khususnya bagi segmen ritel dan UMKM yang belum terjangkau layanan perbankan (underbanked).

Sementara itu, 30 persen sisanya akan diarahkan pada belanja modal untuk pengembangan infrastruktur teknologi. Hal ini mencakup investasi pada sistem pembayaran digital, analisis data, kecerdasan buatan (AI), hingga penguatan sistem keamanan siber guna menjaga kepercayaan nasabah.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini