JURNALZONE.ID – Harga saham emiten properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mengalami pelemahan sebesar 3,22 persen ke level Rp12.775 pada perdagangan Senin (22/12/2025). Penurunan ini terjadi seiring dengan berakhirnya masa perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau PANI-R.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai koreksi tersebut merupakan aksi jual teknikal di tengah fundamental perusahaan yang semakin kuat untuk masuk ke indeks global MSCI.
Analisis Teknis dan Tekanan Pasar
Saham PANI mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp99,80 miliar pada sesi pagi perdagangan awal pekan ini. Secara akumulatif, saham ini telah terkoreksi 4,84 persen dalam sepekan terakhir dan anjlok hingga 19,78 persen sepanjang tahun 2025, yang memicu kekhawatiran berakhirnya tren pertumbuhan fenomenal sejak 2021.
Michael Yeoh menjelaskan bahwa tekanan yang dialami harga saham saat ini lebih bersifat teknikal setelah pelaksanaan aksi korporasi besar selesai.
“Mengenai potensi koreksi, sepertinya investor melakukan aksi sell off dikarenakan hal tersebut,” katanya pada Senin (22/12/2025).
Dari pernyataan itu, dijelaskan bahwa pelepasan saham oleh investor atau sell off merupakan reaksi pasar setelah periode perdagangan hak memesan efek berakhir pada 18 Desember 2025. Michael juga memberikan pandangan mengenai titik aman bagi para pelaku pasar agar tetap waspada terhadap volatilitas.
“Secara teknikal, PANI memiliki support kuat di 13.100. Breakdown angka ini akan membuat PANI menguji angka 12.150,” demikian kata Michael.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa jika harga menembus level bawah Rp13.100, maka ada risiko penurunan lanjutan menuju target Rp12.150 per unit.
Peluang Masuk Indeks MSCI
Meskipun harga saham sedang mengalami tren menurun, PANI kini memiliki rasio saham publik (free float) yang lebih besar. Hal ini menjadi syarat krusial bagi emiten untuk bisa masuk ke dalam indeks bergengsi internasional seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Saham PANI setelah rights issue memiliki free float di kisaran 15,70 persen ke atas. Ini artinya PANI memiliki free float market cap (FFMCAP) saat ini di angka Rp37,64 triliun,” ujar Michael.
Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa peningkatan jumlah saham beredar di masyarakat telah membawa nilai kapitalisasi pasar publik PANI mencapai angka Rp37,64 triliun. Dengan nilai tersebut, PANI dianggap sudah memenuhi kriteria untuk dilirik oleh investor institusi global.
“Sesuai dengan aturan MSCI, di mana saham dengan free float di atas 15 persen memiliki syarat minimum untuk masuk sebesar USD1,768 miliar, maka PANI sudah eligible untuk masuk ke MSCI tanpa perlu kenaikan harga lagi,” lanjutnya.
Melalui kutipan tersebut, ditegaskan bahwa secara administratif PANI sudah layak atau eligible masuk indeks MSCI. Hal ini dikarenakan kapitalisasi pasar free float perusahaan saat ini sudah melampaui ambang batas minimum yang ditetapkan sebesar USD1,768 miliar.
Strategi Ekspansi Melalui Akuisisi CBDK
Dilansir dari data Bursa Efek Indonesia, mayoritas dana hasil rights issue yang dihimpun digunakan PANI untuk memperkuat kendali atas anak usahanya. PANI secara resmi menambah porsi kepemilikan di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menjadi 85,95 persen melalui transaksi senilai Rp14,6 triliun.
“Perlu dicatat juga bahwa hasil rights issue dari PANI itu sendiri akan digunakan untuk melakukan pembelian anak usahanya, yaitu CBDK, sehingga terlihat pergerakan yang kontras antara kedua emiten tersebut,” ujar Michael.
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa pergerakan harga saham PANI saat ini juga dipengaruhi oleh langkah strategis perusahaan dalam mengonsolidasikan bisnisnya. PANI membeli sekitar 2,3 miliar saham CBDK dari PT Agung Sedayu dan PT Tunas Mekar Jaya dengan harga rata-rata Rp6.450 per lembar.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan serta mendukung ekspansi usaha jangka panjang di kawasan PIK 2. Sebagai informasi, PANI melepas sebanyak 1,21 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp12.975 per saham, yang berpotensi menghimpun dana total hingga Rp15,73 triliun.





