Saham IHSG Anjlok Hingga 8%, Efek Masalah Transparansi MSCI

Penyebab IHSG Anjlok 8 Persen

Pasar modal Indonesia diguncang aksi jual masif hingga menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Indeks tercatat ambruk 8% ke level 8.261,79 dengan koreksi mencapai 718 poin pada penutupan sesi kedua.

Kondisi kritis ini memaksa otoritas bursa memberlakukan trading halt atau penghentian perdagangan sementara karena indeks telah menyentuh ambang batas bawah. Sebanyak 768 saham rontok ke zona merah, sementara hanya 28 saham yang menguat dan 8 lainnya stagnan.

Nilai transaksi harian melonjak drastis hingga mencapai Rp31,92 triliun dengan volume 45,40 miliar saham. Aktivitas perdagangan yang sangat tinggi ini terekam dalam 2,96 juta kali frekuensi transaksi.

Krisis Transparansi dan Teguran MSCI

Pemicu utama rontoknya indeks hari ini adalah pengumuman mendadak dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi free float saham Indonesia. MSCI menyoroti ketidakpercayaan investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di dalam negeri.

Meskipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan perbaikan minor, hal tersebut dinilai belum cukup memuaskan bagi para pemodal internasional. Investor global menyampaikan kekhawatiran signifikan terhadap keandalan kategorisasi pemegang saham di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

MSCI menyatakan bahwa informasi kepemilikan yang lebih rinci sangat dibutuhkan untuk mendukung penilaian free float yang kokoh. Persoalan ini juga mencakup kekhawatiran atas potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar.

Kebijakan Darurat dan Risiko Downgrade

Sebagai langkah antisipasi risiko, MSCI langsung menerapkan kebijakan khusus atau interim treatment untuk sekuritas asal Indonesia. “Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera,” tegas MSCI.

Kebijakan ini membekukan penambahan jumlah saham (NOS) dan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) baik dari aksi korporasi maupun tinjauan indeks. Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) untuk sementara waktu.

Risiko yang lebih besar kini membayangi bursa dalam negeri dengan adanya potensi penurunan bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang. MSCI bahkan membuka peluang untuk menurunkan kelas Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Ekky Topan selaku Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori menyebutkan bahwa pengumuman ini memicu lonjakan volatilitas di pasar. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan arus modal keluar (outflow) yang besar, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan dana indeks.