JURNALZONE.ID – Saham-saham bank milik negara berpotensi melanjutkan penguatan setelah pemerintah secara resmi menyalurkan dana likuiditas senilai Rp200 triliun. Kebijakan yang diumumkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa pada Jumat (12/9) ini dinilai analis pasar modal sebagai katalis positif yang dapat memicu reli lanjutan bagi saham perbankan BUMN. Suntikan dana ini bertujuan memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dilansir dari idnfinancials.com, Menurut Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, langkah pemerintah ini memberikan sentimen positif di tengah kinerja beberapa saham bank berkapitalisasi besar yang sempat menjadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia menyoroti saham BBRI, BBNI, dan BRIS yang telah menunjukkan pemulihan dan kini berpotensi melanjutkan tren positifnya berkat stimulus likuiditas tersebut.
“Dilihat dari keadaan saat ini seharusnya probabilitasnya besar relinya berlanjut,” ungkap Fath pada Senin (15/9/2025).
Dari pernyataan itu, dijelaskan adanya optimisme pasar bahwa penempatan dana negara ini akan meningkatkan kinerja keuangan dan valuasi saham bank-bank Himbara. Meskipun demikian, Fath menegaskan bahwa investor juga perlu mencermati hasil pertemuan The Federal Reserve dan Bank Indonesia pekan ini yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.
Di sisi pemerintah, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa dana Rp200 triliun tersebut telah ditempatkan melalui mekanisme deposito on call ke lima bank Himbara. Rinciannya adalah Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing menerima Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, serta Bank Syariah Indonesia Rp10 triliun.
“Pasti pelan-pelan akan ke kredit, sehingga ekonominya bisa bergerak,” kata Purbaya.
Pernyataan ini menggarisbawahi tujuan fundamental pemerintah, yaitu memastikan likuiditas perbankan dapat tersalurkan untuk menggerakkan sektor riil. Kombinasi antara tujuan ekonomi makro pemerintah dan persepsi positif pasar inilah yang menjadi dasar proyeksi penguatan saham perbankan ke depan.





