Proyek IDRIP, Sekarang Peringatan Dini Gempa Tsunami BMKG < 3 Menit

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Peringatan Dini Gempa Tsunami BMKG

JURNALZONE.ID – Proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRIP) resmi ditutup, menandai lompatan besar dalam modernisasi sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami nasional. Dalam acara penutupan di kantor BNPB, Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa waktu diseminasi peringatan dini kini berhasil dipangkas dari 5 menit menjadi maksimum 3 menit, dengan tingkat akurasi di atas 90%.

Modernisasi ini, menurut Dwikorita, mencakup sistem pemantauan, pemrosesan, dan diseminasi yang kini terintegrasi penuh.

“Sebelumnya peringatan dini diberikan dalam waktu 5 menit. Setelah dikerjakan melalui proyek IDRIP kami sudah dapat memberikan peringatan dini dan sudah teruji maksimum 3 menit, bahkan beberapa kejadian antara 2 hingga 3 menit. Kemudian lebih akurat, akurasinya meningkat dan jangkauannya juga lebih luas,” tutur Dwikorita.

Integrasi Sistem dan Supercomputer SMONG

Peningkatan performa sistem ini dicapai melalui integrasi ke dalam Multi Hazard Early Warning System (MHEWS). Sistem ini menggabungkan modul seismologi-tsunami dengan jaringan diseminasi terpadu agar aliran informasi dari hulu ke hilir berjalan mulus.

Infrastruktur MHEWS dibangun di Kemayoran, Jakarta, sebagai sistem utama dan di Denpasar, Bali, sebagai pusat cadangan (backup center). Kecanggihan sistem ini didukung oleh high performance computing atau supercomputer.

“Ini merupakan suatu hasil yang patut kita banggakan karena supercomputer yang dihasilkan dari proyek IDRIP ini termasuk 500 besar supercomputer yang ada di dunia. Jadi masuk dalam rentetan 500 besar dan kita beri nama SMONG (Supercomputer for Multi-hazards Operations and Numerical Modelling),” ungkap Dwikorita.

Dari pernyataan itu, dijelaskan bahwa supercomputer SMONG digunakan untuk mempercepat analisis gempa dan tsunami secara real time. Modernisasi peralatan ini juga diimbangi dengan penguatan kapasitas SDM, melalui lebih dari 40 pelatihan yang melibatkan lebih dari 1.000 peserta.

Pelajaran dari Bencana 2018

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa IDRIP lahir dari pembelajaran atas rangkaian bencana besar tahun 2018, yakni di NTB, Palu-Donggala, dan Selat Sunda. Proyek ini dirancang untuk memperkuat peralatan, SDM, dan kesiapsiagaan di wilayah berisiko tinggi gempa dan tsunami.

Suharyanto menambahkan, rantai hilir kini telah terstandar dan terlatih. Informasi dari BMKG akan mengalir cepat ke Pusdalops pusat dan daerah, diteruskan ke desa tangguh, mengaktifkan sirine, sehingga warga dapat segera mengikuti rute evakuasi yang telah disosialisasikan.

Perilaku berbahaya seperti berbondong-bondong ke pantai saat air surut diharapkan tidak terjadi lagi berkat latihan dan sistem peringatan yang baru ini.

“Bencananya tidak bisa dihentikan, tapi risikonya bisa dikurangi,” tegas Suharyanto.

Kolaborasi Lintas Sektoral

Proyek IDRIP merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia (World Bank). Dalam proyek ini, BNPB bertindak sebagai executing agency (pelaksana proyek) dan BMKG sebagai implementing agency (pelaksana teknis).

Mekanisme monitoring, evaluasi, dan pelaporan yang transparan antara BNPB dan BMKG disebut mencerminkan akuntabilitas program yang tidak hanya berorientasi pada output tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat.

Dwikorita dalam penutupnya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak terlibat dan menyerukan kolaborasi berkelanjutan.

“Mari kita perkuat Early Warning for All dan Early Action by All—agar peringatan dini yang makin cepat dan akurat benar-benar menyelamatkan nyawa,” tutupnya.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini