JURNALZONE.ID – Istilah buzzer dan influencer kerap terdengar di era digital dan sering dianggap sama, namun keduanya memiliki peran, cara kerja, dan tujuan yang fundamental berbeda. Meskipun sama-sama memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik di media sosial, pemahaman yang jelas mengenai perbedaan keduanya menjadi krusial.
Secara garis besar, influencer membangun pengaruh melalui reputasi dan persona asli untuk tujuan persuasi, sementara buzzer bekerja secara masif, sering kali anonim, untuk membuat sebuah isu menjadi viral. Keduanya merupakan aktor penting dalam ekosistem pemasaran dan komunikasi digital saat ini.
Perbedaan Identitas dan Popularitas
Perbedaan paling mendasar antara buzzer dan influencer terletak pada identitas dan popularitas. Seorang influencer adalah figur publik, seperti artis, selebgram, atau kreator konten yang membangun audiens berdasarkan persona dan reputasi asli mereka. Menurut Hariyanti dan Wirapraja, influencer adalah figur yang memiliki pengikut banyak dan kekuatan untuk mempersuasi. Jumlah pengikut dan citra positif menjadi aset utama mereka.
Sebaliknya, buzzer tidak bergantung pada popularitas atau identitas asli. Mereka sering kali beroperasi menggunakan akun anonim atau palsu dan bekerja secara kolektif. Tugas mereka, seperti yang diungkapkan Staple, tidak hanya terbatas pada promosi produk, tetapi juga menjalankan kampanye untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap isu tertentu.
Cara Kerja dan Tujuan Akhir
Metode kerja keduanya juga sangat kontras. Influencer bekerja dengan membangun hubungan dan keterikatan (engagement) dengan pengikutnya. Mereka dipilih oleh sebuah merek karena kepribadiannya dianggap selaras dengan produk yang akan dipasarkan. Tujuan akhir seorang influencer adalah tercapainya konversi, yaitu mengajak pengikutnya untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang direkomendasikan.
Di sisi lain, cara kerja buzzer berfokus pada amplifikasi pesan secara berulang-ulang hingga menjadi topik yang tren (trending). Menurut beberapa ahli, tujuan buzzer tercapai jika sebuah isu berhasil mendominasi percakapan di dunia maya. Dalam praktiknya, buzzer tidak ragu menggunakan berbagai cara, termasuk menyebarkan informasi kontroversial atau hoaks untuk memicu perdebatan dan menggiring opini publik.
Akuntabilitas dan Persepsi Publik
Aspek pertanggungjawaban menjadi pembeda krusial lainnya. Karena menggunakan identitas asli, seorang influencer memiliki akuntabilitas tinggi atas setiap konten yang diunggah. Reputasi baik adalah segalanya bagi mereka, sehingga konten yang dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, anonimitas membuat buzzer memiliki akuntabilitas yang rendah. Mereka bisa dengan leluasa menyebarkan informasi tanpa harus khawatir terhadap citra pribadi, terutama dalam kampanye politik yang sering kali bersifat negatif. Hal ini membuat audiens cenderung lebih percaya pada rekomendasi personal dari influencer dibandingkan pesan masif yang disebarkan oleh buzzer.
Fenomena buzzer dan influencer akan terus berkembang seiring dinamika media sosial. Untuk analisis lebih mendalam mengenai tren digital dan dampaknya bagi masyarakat, ikuti terus berita terkait lainnya hanya di Jurnalzone.id.

