Jurnalzone.id – Perang perebutan talenta terbaik di bidang kecerdasan buatan (AI) semakin memanas, dengan Meta dilaporkan gencar membajak para ahli dari perusahaan pesaing seperti DeepMind. CEO DeepMind, Demis Hassabis, menanggapi taktik Mark Zuckerberg tersebut dengan menyebutnya “rasional”, namun ia juga menyiratkan bahwa para peneliti yang benar-benar akan membentuk masa depan AI tidak hanya termotivasi oleh uang.
Upaya Agresif Meta Mengejar Ketertinggalan
Untuk menyuntikkan energi baru ke dalam ambisi AI-nya, Meta secara diam-diam meluncurkan Superintelligence Labs pada awal tahun ini. Proyek ini dibentuk setelah model Llama yang dirilis pada bulan April gagal mendominasi pasar.
Mark Zuckerberg bahkan dilaporkan turun tangan langsung dalam perburuan talenta, membujuk nama-nama besar di dunia riset AI dengan tawaran yang sangat tinggi. Di kalangan industri, beredar kabar bahwa paket kompensasi yang ditawarkan mencapai $200 juta per tahun.
Langkah ini sudah menunjukkan hasil. Sejumlah peneliti dari OpenAI, Google, hingga Apple telah mengundurkan diri untuk bergabung dengan Meta, sebuah langkah yang menarik perhatian di seluruh dunia teknologi.
Misi di Atas Uang
Meskipun demikian, Demis Hassabis meyakini motivasi utama para ilmuwan top melampaui sekadar gaji. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg pekan ini, ia memberikan pandangannya.
“Ada strategi yang diambil Meta saat ini,” katanya. “Saya pikir orang-orang yang benar-benar percaya pada misi AGI (kecerdasan buatan umum) dan apa yang bisa dilakukannya. Sebagian besar melakukannya untuk berada di garis depan, sehingga mereka dapat membantu memengaruhi bagaimana hasilnya dan mengawal teknologi ini dengan aman ke dunia.”
Hassabis menilai posisi Meta saat ini belum berada di garis terdepan dalam riset AI. “Saat ini mereka tidak berada di garis depan. Mungkin mereka akan berhasil kembali ke sana. Dan mungkin rasional, apa yang mereka lakukan dari sudut pandang mereka, karena mereka tertinggal dan perlu melakukan sesuatu. Tetapi saya pikir ada hal-hal yang lebih penting daripada sekadar uang,” tegasnya.
Baca juga: Biografi Shengjia Zhao Pakar AI di Balik ChatGPT dan Sekarang di Meta
Pergeseran Drastis di Industri AI
CEO DeepMind itu juga merefleksikan betapa dramatisnya perubahan di bidang AI dalam satu dekade terakhir. Ia mengenang masa-masa awal DeepMind yang penuh perjuangan. “Kami tidak bisa menggalang dana sama sekali. Saya tidak membayar diri saya sendiri selama beberapa tahun,” ungkapnya.
Kini, situasinya berbanding terbalik. “Sekarang,” tambahnya dengan nada tak percaya, “para pekerja magang dibayar setara dengan seluruh putaran pendanaan awal kami.”
Bagi Hassabis, hiruk pikuk perekrutan dan belanja besar-besaran saat ini kehilangan satu poin fundamental: hadiah sebenarnya terletak pada kemampuan untuk berada di ujung tombak penelitian, bukan sekadar menguangkan potensi.





