Peneliti tetap menulis, Publik tetap tidak tahu: Siapa yang Salah?

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

kesenjangan informasi antara peneliti dan publik

Indonesia terus menunjukkan peningkatan produktivitas riset yang signifikan setiap tahunnya, namun ironisnya, sebagian besar hasil penelitian tersebut tidak sampai atau tidak dipahami oleh masyarakat luas. Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis: ketika peneliti terus menulis dan publik tetap tidak tahu, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kesenjangan informasi ini?

Permasalahan ini bukan sekadar soal siapa yang salah, melainkan sebuah isu sistemik yang kompleks. Para pengamat menyoroti bahwa kebuntuan komunikasi antara menara gading akademisi dan realitas di masyarakat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait, mulai dari budaya akademik, peran media, hingga tingkat literasi sains publik itu sendiri. Akibatnya, banyak inovasi dan temuan penting hanya berakhir sebagai tumpukan dokumen di perpustakaan.

Bahasa Teknis dan Menara Gading Akademisi

Salah satu akar masalah utama terletak pada cara peneliti mengomunikasikan hasil kerjanya. Para akademisi dan peneliti didorong oleh sistem untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal-jurnal ilmiah internasional yang memiliki standar tinggi, menggunakan bahasa yang sangat teknis dan spesifik.

Orientasi ini membuat hasil riset menjadi eksklusif dan sulit diakses oleh kalangan di luar bidang mereka, termasuk pembuat kebijakan dan masyarakat umum. Ada insentif yang minim bagi peneliti untuk menerjemahkan temuan mereka ke dalam format yang lebih populer dan mudah dicerna.

Peran Media yang Belum Optimal

Di sisi lain, media sebagai jembatan informasi juga memiliki andil dalam kesenjangan ini. Banyak media massa yang cenderung lebih fokus pada berita politik atau hiburan yang dianggap memiliki daya tarik lebih tinggi. Liputan mengenai sains dan teknologi sering kali kurang mendalam, terlalu disederhanakan, atau bahkan disajikan secara sensasional sehingga kehilangan esensi ilmiahnya.

Terbatasnya jumlah jurnalis sains yang kompeten juga menjadi tantangan tersendiri dalam menyajikan berita penelitian yang akurat dan menarik bagi publik.

Rendahnya Literasi Sains di Masyarakat

Faktor dari sisi publik juga tidak bisa diabaikan. Tingkat literasi sains masyarakat secara umum masih menjadi tantangan besar. Tanpa pemahaman dasar yang cukup mengenai metode ilmiah dan konsep-konsep kunci, masyarakat akan kesulitan untuk memahami relevansi dan pentingnya sebuah hasil penelitian.

Era disrupsi informasi dengan arus berita cepat saji dari media sosial juga membentuk kebiasaan audiens yang lebih menyukai konten ringkas dan instan, sementara pemahaman terhadap riset membutuhkan waktu dan perhatian lebih.

Diskusi lebih lanjut mengenai solusi untuk menjembatani dunia riset dan publik dapat Anda temukan dalam ulasan mendalam lainnya di Jurnalzone.id.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini