Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini memulai langkah masif dalam mempersiapkan “Generasi Emas” melalui penguatan kompetensi pendidik. Tahun ini, pemerintah menargetkan pelatihan Bahasa Inggris bagi sebanyak 130.000 guru Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia.
Program strategis ini dirancang untuk menjawab tantangan globalisasi, di mana penguasaan bahasa asing menjadi kunci utama SDM unggul. Pemerintah menyadari bahwa selama ini guru SD seringkali merasa tidak percaya diri dalam mengajarkan bahasa asing karena keterbatasan penguasaan diri.
Urgensi Bahasa Inggris di Tingkat Pendidikan Dasar
Kemendikdasmen menegaskan bahwa penguasaan Bahasa Inggris bagi guru SD sangat krusial di era digital. Dengan kemampuan bahasa yang baik, para guru dapat mengakses referensi ilmiah terbaru secara global tanpa harus menunggu proses terjemahan.
Selain aspek akademik, bahasa ini diposisikan sebagai alat pendukung Profil Pelajar Pancasila (P5). Melalui Bahasa Inggris, guru dapat menanamkan nilai toleransi, gotong royong, dan persahabatan budaya, sekaligus menyuntikkan nilai nasional ke kancah internasional.
Metode Pelatihan: PCK dan Komunikasi Aktif
Target ambisius terhadap 130.000 guru ini tidak berfokus pada pencarian figur yang fasih berbicara layaknya penutur asing (native speaker). Pemerintah menitikberatkan pada teaching competence yang mencakup Pedagogical Content Knowledge (PCK) yang kuat.
Kurikulum pelatihan diarahkan pada paradigma Komunikasi Aktif (Active Communication) di dalam kelas. Beberapa metode praktis yang diajarkan meliputi:
- Total Physical Response (TPR): Teknik yang menggabungkan koordinasi bahasa dan gerakan fisik.
- Suggestopedia: Metode pembelajaran yang menciptakan suasana kelas nyaman dan menyenangkan.
- Question and Answer: Strategi interaktif untuk merangsang keberanian siswa dalam berbicara.
Strategi “Agent of Change” dan Tantangan Lapangan
Setiap peserta pelatihan diwajibkan menjadi agent of change atau change maker di sekolah masing-masing. Strategi yang diusung adalah penggunaan instruksi sederhana dalam Bahasa Inggris di lingkungan kelas, seperti kalimat “Open your books to page five” saat memulai materi.
Namun, Kemendikdasmen mengakui adanya tantangan besar berupa disparitas kapasitas antara wilayah urban dan pedesaan. Selain itu, faktor usia guru yang mendekati masa pensiun menjadi perhatian khusus karena memengaruhi adaptabilitas terhadap metode pembelajaran baru.
Untuk menyikapi hal tersebut, pemerintah menyediakan pendampingan intensif melalui instruktur fasilitator dan modul pelatihan yang aplikatif secara humanis. Program ini diharapkan menjadi investasi strategis demi menyongsong Indonesia Emas 2045 yang dimulai dari ruang-ruang kelas dasar.