Contoh Penerapan Metode SCAMPER untuk Inovasi Produk

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Penerapan Metode SCAMPER

Inovasi adalah nyawa bagi setiap bisnis agar tetap relevan dan mampu bersaing di tengah pasar yang sangat ketat. Pernahkah kamu merasa buntu saat mencoba mencari ide baru untuk mengembangkan produk andalanmu? Rasanya sangat frustrasi ketika memandangi produk lama tanpa tahu harus mengubah bagian mana agar lebih menarik bagi pelanggan.

Tenang saja karena metode SCAMPER hadir sebagai solusi praktis untuk memancing kreativitasmu keluar dengan terstruktur.

Tulisan ini akan memberikan daftar pertanyaan pemicu ide dan contoh penerapannya secara langsung pada sebuah bisnis es krim.

Mengenal Konsep Dasar SCAMPER

SCAMPER adalah teknik brainstorming yang menggunakan tujuh jenis pertanyaan berbeda untuk memicu serangkaian ide inovatif. Metode ini berfungsi sebagai daftar periksa mental yang memaksa otakmu berpikir dari berbagai sudut pandang yang tidak biasa.

Padahal teknik ini bukan hanya untuk desainer produk saja melainkan bisa dipakai oleh siapa pun di berbagai industri.

Kamu bisa menggunakannya saat ingin memperbaiki layanan pelanggan atau merancang strategi pemasaran baru yang lebih segar. Bahkan metode ini sangat berguna ketika kamu ingin menyederhanakan alur kerja tim agar lebih efisien dan hemat waktu.

Oleh karena itu penguasaan teknik ini menjadi kriteria penting bagi pemecahan masalah yang kreatif dan solutif di dunia kerja.

BACA JUGA: Strategi Agar Konten Kamu Masuk FYP Tiktok

Daftar Pertanyaan dan Penerapan SCAMPER

Agar kamu lebih mudah memahami cara kerjanya, kita akan membedah setiap elemen SCAMPER. Kita akan menggunakan studi kasus seorang pengusaha es krim yang ingin berinovasi karena kesadaran kesehatan masyarakat yang semakin tinggi.

1. Substitute (Pengganti)

Elemen pertama mengajakmu berpikir tentang bahan atau sumber daya apa yang dapat kamu gantikan untuk meningkatkan kualitas produk. Kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri apakah ada aturan yang bisa diganti atau bisakah mengubah sikap terhadap produk tersebut.

Dalam kasus es krim sehat, kamu bisa mengganti bahan dasar susu sapi dengan susu almon atau kedelai. Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan pasar yang mencari opsi lebih sehat namun tetap ingin menikmati es krim.

2. Combine (Menggabungkan)

Tahap ini menantangmu untuk melihat apa yang akan terjadi jika kamu menggabungkan produk ini dengan elemen lain untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Coba pikirkan bagaimana jika kamu menggabungkan tujuan, bakat, atau sumber daya yang ada untuk memaksimalkan penggunaan produk. Sebagai contoh inovasi, kamu bisa menggabungkan es krim berbahan nabati tersebut dengan roti gandum. Hasilnya adalah varian baru berupa sandwich es krim yang unik dan mengenyangkan.

3. Adapt (Menyesuaikan)

Di sini kamu perlu melihat bagaimana kamu bisa menyesuaikan kembali produk ini untuk melayani tujuan atau penggunaan lain yang lebih relevan. Kamu bisa mencari inspirasi dari produk atau ide lain untuk ditiru lalu konteksnya disesuaikan ke dalam produkmu.

Pada bisnis es krim, kamu harus menyesuaikan tekstur dan komposisinya agar tetap terasa creamy seperti es krim pada umumnya meskipun bahannya berbeda. Penyesuaian ini penting agar konsumen lama tidak merasa asing dengan produk barumu.

4. Modify (Memodifikasi)

Fokus pada tahap ini adalah mengubah bentuk, tampilan, atau nuansa produkmu agar memiliki nilai tambah yang lebih menonjol. Tanyakan pada dirimu elemen apa yang bisa diperkuat atau sorotan apa yang bisa ditekankan untuk menciptakan nilai lebih.

Penerapannya bisa berupa modifikasi varian rasa yang lebih lokal seperti es doger, cendol, atau es teler. Penambahan cita rasa tradisional ini akan memberikan sentuhan unik yang membedakan produkmu dari kompetitor.

5. Put to Another Use (Tetapkan untuk Penggunaan Lain)

Cobalah berpikir di luar kotak dengan bertanya bisakah kamu menggunakan produk ini di tempat lain atau untuk industri yang berbeda. Pikirkan siapa lagi yang bisa menggunakan produk ini selain target pasar utamamu saat ini.

Untuk es krim sehat tadi, kamu bisa mengubah peruntukannya bukan sekadar sebagai makanan penutup. Kamu bisa memposisikan produk tersebut sebagai cemilan diet resmi atau asupan pasca-olahraga bagi komunitas kebugaran.

6. Eliminate (Menghapuskan)

Terkadang inovasi bukan tentang menambah, melainkan mengurangi fitur, bagian, atau aturan yang tidak perlu untuk merampingkan produk. Identifikasi apa yang bisa kamu anggap remeh atau hilangkan agar produk menjadi lebih cepat, ringan, atau menyenangkan.

Dalam konteks es krim, kamu bisa menghilangkan elemen kemasan yang rumit dan mahal. Menyederhanakan tampilan cup es krim menjadi lebih minimalis justru bisa menekan biaya produksi sekaligus terlihat lebih elegan.

7. Reverse (Balik)

Langkah terakhir adalah memikirkan apa yang akan terjadi jika kamu membalik proses produksi atau mengurutkan hal-hal secara berbeda. Kamu bisa mencoba melakukan kebalikan dari apa yang coba kamu lakukan sekarang atau menukar peran komponen tertentu.

Pada resep es krim, kamu bisa bereksperimen dengan membalik urutan persentase bahan atau metode pencampurannya. Siapa tahu perubahan urutan ini justru menciptakan tekstur baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini