Generasi Z (Gen Z) dilaporkan tengah menghadapi krisis keuangan yang serius, ditandai dengan ketergantungan yang tinggi pada kartu kredit sebagai jaring pengaman utama. Para ahli keuangan menyoroti bahwa generasi ini cenderung menggunakan kartu kredit untuk keluar dari situasi finansial yang sulit tanpa sepenuhnya memahami konsekuensi jangka panjang dari strategi tersebut.
Kombinasi dari biaya hidup yang melonjak, utang pendidikan, dan pasar kerja yang tidak stabil menempatkan mereka pada posisi yang sangat rentan.
Data terbaru yang dilansir dari Parents.com, survei yang dilakukan oleh Credit One Bank terhadap 1.150 konsumen di Amerika Serikat memperkuat kekhawatiran ini. Laporan tersebut menemukan bahwa sebagian besar responden, terutama dari kalangan muda, mengandalkan kredit daripada tabungan sebagai penyelamat finansial.
Salah satu temuan kunci menunjukkan bahwa 62% responden Gen Z tidak memiliki rekening tabungan darurat sama sekali. Angka ini hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan generasi baby boomer. Lebih lanjut, survei tersebut juga mengungkap bahwa satu dari empat responden Gen Z dan milenial akan memaksimalkan limit kartu kredit mereka untuk menutupi pengeluaran tak terduga.
Michelle Taylor, seorang penasihat keuangan di GFG Solutions, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Biaya sewa, bahan makanan, transportasi, dan kebutuhan hidup secara keseluruhan jauh lebih tinggi dibandingkan yang dihadapi generasi sebelumnya.
“Mereka juga dihadapkan pada utang pinjaman mahasiswa, volatilitas pasar kerja, dan jalur yang lebih sulit untuk mendapatkan peluang membangun kekayaan,” ujar Taylor.
Menurutnya, ketergantungan pada kredit ini membuat Gen Z hanya selangkah dari krisis yang lebih dalam.
“Kehilangan pekerjaan, ban kempes, atau bahkan pengeluaran yang tampaknya kecil bisa menjadi kritis dan seringkali mengarah pada lebih banyak utang. Ini bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk pulih.”
Tantangan yang dihadapi Gen Z diperparah oleh pergeseran prioritas dan tren sosial yang tidak menguntungkan. Taylor menjelaskan bahwa generasi ini menghadapi “kesenjangan literasi keuangan” karena tidak memiliki stabilitas kerja dan pengalaman lebih awal seperti generasi sebelumnya.
Pandemi COVID-19 yang terjadi selama tahun-tahun formatif mereka, ditambah dengan pasar perumahan yang terasa di luar jangkauan serta maraknya “ekonomi pertunjukan” (gig economy) tanpa tunjangan karyawan, semakin menambah rintangan bagi mereka untuk merasa aman secara finansial.
Sebagai respons, Gen Z telah mendefinisikan kembali makna kekayaan. Bagi mereka, kemakmuran bukan lagi sekadar memiliki banyak uang di bank. “Mereka juga memprioritaskan jadwal yang fleksibel, otonomi, dan telah mendefinisikan kembali seperti apa kekayaan itu. Ini bukan hanya uang di bank—ini adalah waktu, kebebasan, pengalaman, dan menjalani kehidupan yang benar-benar mereka rancang,” jelas Taylor.
Meskipun pandangan hidup yang lebih holistik ini bermanfaat bagi kesehatan mental, kegagalan untuk menyisihkan dana darurat menempatkan mereka pada risiko finansial yang besar di masa depan. Taylor menambahkan bahwa meski penggunaan kartu kredit dapat membantu membangun riwayat kredit yang baik, hal itu bisa menjadi “masalah besar jika tidak dilunasi secara sengaja dengan rencana yang solid.”
Bunga yang tinggi dan rasio utang terhadap pendapatan yang membengkak akan menghambat tujuan keuangan jangka panjang seperti membeli rumah. Aturan emasnya, menurut Taylor, adalah memandang kartu kredit sebagai alat darurat, bukan Rencana A. Rencana A harus selalu tabungan.
