Pakar BRIN Soroti Imunitas Vaksin Menurun dan Ancaman Long Covid

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Faktor Risiko Long Covid 19

JURNALZONE.IDBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa vaksinasi saja belum cukup untuk mengakhiri ancaman pandemi global. Melalui sebuah webinar pada Selasa (12/8), BRIN menyerukan pentingnya strategi riset jangka menengah dan panjang untuk membangun ketahanan kesehatan nasional dalam mengantisipasi potensi munculnya penyakit menular baru di masa depan.

Fondasi Ketahanan Kesehatan Nasional

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, menyatakan bahwa kemunculan varian baru SARS-CoV-2 membuktikan perlunya kesiapsiagaan berkelanjutan. Menurutnya, meski status pandemi COVID-19 telah dicabut, ancaman penyakit menular lainnya tetap ada.

“Kita memerlukan pendekatan menyeluruh berbasis ilmu pengetahuan, data, dan kolaborasi lintas sektor untuk membangun ketahanan kesehatan jangka panjang,” kata Indi dalam webinar bertajuk COVID-19 Tidak Berakhir pada Vaksinasi: Strategi Riset Antisipasi Ancaman Pandemi Selanjutnya.

Ia menambahkan bahwa riset terpadu yang mencakup berbagai bidang menjadi fondasi utama untuk menciptakan sistem kesehatan yang responsif dan adaptif. “Ketahanan kesehatan adalah investasi strategis. Riset menjadi fondasi utama untuk menghadapi ancaman pandemi berikutnya,” tutup Indi.

Imunitas Vaksin dan Ancaman Long Covid

Salah satu fokus riset yang dibahas adalah efektivitas dan durasi imunitas dari vaksinasi. Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Khariri, memaparkan bahwa respons imun tertinggi terjadi dalam tiga bulan pertama setelah vaksinasi, kemudian cenderung menurun seiring waktu.

“Data nasional 2021–2023 juga mengonfirmasi bahwa penerima vaksin memiliki kadar antibodi lebih tinggi dibanding yang tidak divaksin, meskipun perbedaan antarplatform tidak signifikan,” ungkap Khariri. Studinya juga menunjukkan vaksin berbasis mRNA seperti Moderna menghasilkan kadar antibodi yang lebih tinggi dan konsisten.

Sementara itu, Peneliti BRIN lainnya, Hotma Martogi Lorensi Hutapea, menyoroti ancaman jangka panjang berupa Long Covid. Kondisi ini dapat berlangsung minimal dua bulan setelah infeksi dan berisiko lebih tinggi pada perempuan, lansia, dan penderita komorbid. “Di Indonesia, prevalensinya diperkirakan mencapai 31–35%. Vaksinasi minimal dua dosis terbukti menurunkan risiko Long Covid,” papar Hotma.

Pemantauan Varian Virus Melalui Genomik

Untuk mengantisipasi mutasi virus, pemantauan melalui Whole Genome Sequencing (WGS) menjadi krusial. Peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Yustinus Maladan, menjelaskan bahwa metode ini penting untuk melacak varian baru seperti subgaris keturunan Omicron yang terus berkembang.

“Pemantauan varian melalui analisis bioinformatika penting untuk memahami pola mutasi dan menyiapkan langkah mitigasi kesehatan. BRIN menegaskan bahwa riset terpadu lintas bidang menjadi fondasi ketahanan kesehatan sebagai investasi strategis masa depan,” tegas Yustinus.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini