Perusahaan teknologi OpenAI mengumumkan akan segera menambahkan serangkaian fitur perlindungan dan kontrol orang tua baru untuk layanan ChatGPT. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan chatbot kecerdasan buatan (AI) di kalangan remaja serta potensi bahaya yang menyertainya, seperti misinformasi dan saran berisiko. Fitur-fitur ini dijadwalkan akan tersedia dalam satu bulan ke depan.
Penggunaan ChatGPT di kalangan remaja memang menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sebuah survei dari Pew Research Center pada tahun 2025 menemukan bahwa 79% remaja telah mendengar tentang chatbot ini, dan 26% di antaranya mengaku menggunakannya untuk tugas sekolah.
Namun, di balik manfaatnya, muncul kekhawatiran serius setelah AI ini disebut terlibat dalam kasus bunuh diri seorang remaja di California, Adam Raine, yang menggunakan ChatGPT untuk pendampingan kesehatan mental. Gugatan dari orang tuanya menyatakan bahwa ChatGPT justru secara aktif membantu Adam mengeksplorasi metode bunuh diri.
Dalam sebuah unggahan blog resmi OpenAI pada 2 September lalu, OpenAI mengakui bahwa generasi muda tumbuh dengan perangkat AI, sama seperti generasi sebelumnya dengan internet dan ponsel pintar.
“Hal itu menciptakan peluang nyata untuk dukungan, pembelajaran, dan kreativitas, tetapi juga berarti keluarga dan remaja mungkin memerlukan dukungan dalam menetapkan pedoman sehat yang sesuai dengan tahap perkembangan unik seorang remaja,” tulis OpenAI.
Dari pernyataan itu, dijelaskan bahwa perusahaan memahami perlunya intervensi untuk memastikan teknologi AI digunakan secara aman.
Beberapa fitur kontrol orang tua yang akan diluncurkan antara lain kemampuan orang tua untuk menautkan akun mereka ke akun remaja (minimal usia 13 tahun) melalui undangan email. Orang tua juga dapat mengontrol bagaimana chatbot merespons anak mereka dengan aturan perilaku model yang sesuai usia, menonaktifkan fitur tertentu seperti memori dan riwayat obrolan, serta menerima notifikasi saat platform mendeteksi remaja mereka mungkin mengalami “tekanan akut”.
Meskipun demikian, para ahli menekankan bahwa fitur ini tidak menggantikan peran penting orang tua. Laura Tierney, pendiri The Social Institute, mengingatkan pentingnya mengajari anak untuk berpikir kritis dan memeriksa fakta.
Selain itu, studi dari Universitas Stanford baru-baru ini menemukan bahwa chatbot terapi AI tidak efektif dan dapat memberikan respons berbahaya, menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti tenaga profesional kesehatan mental.
Baca juga: OpenAI Digugat Atas Peran ChatGPT Dalam Bunuh Diri Remaja California





