JURNALZONE.ID – Nilai tukar rupiah menghentikan tren penguatan tiga hari beruntun dan ditutup melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (15/9/2025). Dilansir dari data pasar spot, kurs rupiah terkoreksi sebesar 41 poin atau 0,25 persen, mendarat di level Rp16.416 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan serupa juga tercatat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Data menunjukkan, kurs rupiah Jisdor hari ini ditutup melemah 14 poin atau 0,09 persen menjadi Rp 16.405 per dolar AS, dibandingkan posisi pada akhir pekan sebelumnya.
Di tingkat regional, pelemahan rupiah tidak terjadi sendirian. Beberapa mata uang Asia lainnya juga bergerak di zona merah. Baht Thailand memimpin depresiasi mata uang di kawasan dengan pelemahan sebesar 0,44 persen, diikuti oleh peso Filipina yang terkoreksi 0,13 persen dan dolar Taiwan yang turun tipis 0,03 persen.
Namun, mayoritas mata uang utama di Asia justru menunjukkan kinerja positif dengan bergerak di zona hijau. Won Korea mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 0,45 persen, disusul oleh ringgit Malaysia yang juga menguat signifikan 0,44 persen.
Mata uang lain yang berhasil menguat terhadap dolar AS termasuk yen Jepang (0,21%), dolar Singapura (0,13%), rupee India (0,10%), yuan China (0,03%), dan dolar Hong Kong yang menguat tipis.
Meskipun demikian, sentimen pasar untuk perdagangan esok hari berpotensi berubah seiring pengumuman paket ekonomi strategis oleh pemerintah pada hari yang sama. Komitmen pemerintah untuk menyerap jutaan tenaga kerja melalui program di sektor koperasi, kelautan, dan perkebunan diharapkan dapat menjadi katalis positif. Kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik dapat menopang nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Baca juga: Pemerintah Rilis Program Paket Ekonomi 2025 (8+4+5), Apa itu?





