JURNALZONE.ID – Sebuah rekaman mikrofon yang tidak sengaja menyala (hot mic) yang menangkap percakapan antara Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi viral di media sosial dan memicu perdebatan global.
Insiden yang terjadi di sela-sela Konferensi Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir, ini menyoroti permintaan Prabowo untuk bertemu dengan putra-putra Trump, yang notabene adalah pebisnis swasta, bukan pejabat pemerintah.
Rekaman Viral Picu Spekulasi
Insiden tersebut terjadi sesaat setelah Trump menyelesaikan pidatonya. Dalam audio yang tersebar luas, terdengar Prabowo berbicara kepada Trump mengenai suatu wilayah yang disebutnya “not safe, security-wise” (tidak aman dari segi keamanan). Tak lama kemudian, Prabowo mengajukan permintaan personal.
“Bolehkah saya bertemu Eric?” (Can I meet Eric?), tanya Prabowo.
Trump merespons dengan cepat, “Saya akan minta Eric menelepon… Saya akan minta Eric menelepon Anda.” (I’ll have Eric call … I’ll have Eric call you.). Prabowo kemudian menambahkan klarifikasi, “Eric atau Don Jr.”
Rekaman ini dengan cepat diunggah ulang oleh berbagai akun aktivis dan media di platform X (sebelumnya Twitter), salah satunya oleh akun “Call to Activism” yang mempertanyakan, “Did we just hear a major crime happen?” (Apakah kita baru saja mendengar kejahatan besar terjadi?).
Unggahan tersebut telah ditonton jutaan kali, memicu spekulasi liar mengenai adanya potensi kesepakatan bisnis di balik layar acara diplomatik.
🚨OH MY GOD: Trump and Indonesian President Prabowo Subianto have just been caught on a hot mic discussing a deal (?) (he asks to speak with Trump's sons Eric and Don Jr – who do NOT work in government).
— CALL TO ACTIVISM (@CalltoActivism) October 13, 2025
Did we just hear a major crime happen?
pic.twitter.com/pLMMwbFQHp
Potensi Konflik Kepentingan Disorot
Sorotan utama dari insiden ini adalah status Eric Trump dan Donald Trump Jr. Keduanya merupakan eksekutif puncak di The Trump Organization, kerajaan bisnis swasta milik keluarga Trump, dan tidak memegang jabatan apa pun dalam pemerintahan AS.
Permintaan seorang kepala negara untuk bertemu dengan keluarga pebisnis dari kepala negara lain di tengah forum internasional resmi menimbulkan pertanyaan serius mengenai potensi konflik kepentingan.
Para pengamat menilai, situasi ini menciptakan persepsi bahwa batas antara urusan negara dan kepentingan bisnis pribadi menjadi kabur. Muncul kekhawatiran apakah permintaan pertemuan tersebut terkait dengan proyek investasi atau bisnis di Indonesia, yang dapat menempatkan kedua pemimpin dalam posisi sulit secara etis dan hukum.
Pemerintah AS dan Indonesia Belum Bersuara
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai maksud dan tujuan dari pembicaraan tersebut. Belum ada bukti konkret bahwa percakapan itu menyangkut kontrak pemerintah atau transaksi resmi antarnegara.
Pihak pemerintah Amerika Serikat maupun perwakilan Indonesia belum memberikan pernyataan publik untuk menjelaskan konteks permintaan Prabowo atau untuk menjawab tudingan yang beredar. Publik kini menantikan transparansi untuk mengetahui apakah percakapan itu sekadar basa-basi diplomatik atau ada agenda lain yang perlu diungkap.





