JURNALZONE.ID – Nama Tinandrose mendadak menjadi perbincangan hangat dan banyak dicari oleh publik usai kabar lamarannya dengan YouTuber Fiki Naki mencuat pada Minggu, 23 November 2025. Perempuan bercadar yang memiliki latar belakang sebagai penulis dan pegiat konten kreatif ini sebelumnya tidak banyak diketahui publik sebagai sosok spesial di hati Fiki Naki, sehingga momen pengumuman lamaran tersebut sukses mengejutkan warganet.
Publik kini mulai menelusuri siapa sebenarnya sosok di balik nama pena Tinandrose yang berhasil memikat hati sang konten kreator. Identitasnya yang selama ini tertutup rapat membuat profilnya menjadi topik pencarian utama di berbagai media sosial.
Kiprah di Dunia Literasi
Tinandrose sejatinya bukan sosok baru di dunia kepenulisan dan literasi kaum muda. Ia mulai dikenal luas oleh publik sebagai penulis buku berjudul “Untuk Nama yang Tak Berani Kusebut dalam Doa”.
Buku ini mendapatkan tempat tersendiri di hati pembaca karena berisi kumpulan monolog hati dan renungan batin yang ditulis dengan gaya puitis yang menyentuh.
Selain itu, ia juga melahirkan karya lain berupa novel bernuansa spiritual dengan judul “Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak”. Dalam buku ini, Tinandrose mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai kekuatan doa, perjalanan hidup manusia, serta bagaimana menghadapi ketidakpastian takdir.
Karya-karya tersebut membuat namanya kian digemari, terutama oleh kalangan pembaca muda yang menyukai tulisan-tulisan emosional dan reflektif.
Jejak Digital dan Karya Audio
Selain aktif menulis buku, Tinandrose juga dikenal produktif sebagai kreator konten di berbagai platform media sosial. Ia memiliki akun Instagram dengan nama pengguna @tinandrose yang kerap mengunggah kutipan reflektif, pemikiran batin, serta konten visual yang minimalis. Sementara itu, di platform TikTok melalui akun @temporarery, ia sering membagikan potongan monolog pendek yang kerap kali menjadi viral (FYP).
Kreativitasnya juga merambah ke dunia audio melalui Podcast ‘Tinandrose’ yang tersedia di Apple Podcasts. Podcast ini mengangkat tema seputar perjalanan spiritual, proses penyembuhan diri (healing), pencarian jati diri, hingga refleksi malam.
“Beberapa episode podcastnya, seperti ‘A Year of Lessons’ dan ‘Welcome Home’, cukup populer karena gaya tuturnya yang lembut dan menenangkan,” demikian ulasan mengenai karya audionya.
Dari data tersebut, dijelaskan bahwa kekuatan konten Tinandrose terletak pada penyampaiannya yang tenang namun mampu menyentuh sisi emosional pendengarnya.
Founder Proyek Kreatif dan Bisnis
Tidak hanya berfokus pada karya seni tulis dan suara, Tinandrose juga membuktikan kemampuannya di bidang kewirausahaan dan manajemen kreatif. Ia tercatat sebagai pendiri (founder) dan terlibat dalam berbagai proyek, seperti Her Season Podcast serta platform konten khusus perempuan bernama Her Best Media.
Di sektor bisnis ritel, ia turut mengembangkan jenama (brand) muslimah yakni Nirma Basic dan Nirmalism. Kedua jenama ini identik dengan gaya busana yang minimalis namun tetap menonjolkan nuansa religius.
Keberhasilan Tinandrose mengelola berbagai lini karya dan bisnis ini membuatnya dipandang sebagai representasi sosok perempuan yang lembut namun memiliki karakter kuat di era digital.



