Mengenal 10 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat dan Jasa Besarnya

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Otto Iskandardinata

Provinsi Jawa Barat telah melahirkan banyak tokoh besar yang berkontribusi fundamental pada pendirian Republik Indonesia. Sepuluh di antaranya telah diakui sebagai Pahlawan Nasional, mencerminkan peran vital mereka dalam berbagai bidang krusial, mulai dari politik, pendidikan perempuan, hukum, diplomasi, hingga kemaritiman.

Para tokoh ini, yang berasal dari berbagai daerah di Tatar Sunda, meletakkan fondasi penting bagi negara melalui perjuangan, pemikiran, dan karya nyata mereka di masa lalu.

Kontribusi para pahlawan ini tersebar di berbagai sektor yang membentuk Indonesia modern. Dilansir dari berbagai rangkuman sejarah, berikut adalah profil singkat dan jasa sepuluh pahlawan nasional dari Jawa Barat:

1. Ir. H. Djoeanda Kartawidjaja

Lahir di Tasikmalaya, Djoeanda adalah Perdana Menteri Indonesia kesepuluh. Lulusan ITB (1933) ini juga pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan. Jasa terbesarnya yang monumental adalah Deklarasi Djoeanda, yang menegaskan kedaulatan maritim Indonesia dan menyatakan laut antar pulau sebagai bagian utuh NKRI.

2. Raden Dewi Sartika

Pahlawan wanita kelahiran Cicalengka (1884) ini merupakan pelopor pendidikan perempuan di masa Hindia Belanda. Pada tahun 1904, ia mendirikan Sakola Istri di Bandung, yang mengajarkan berbagai keterampilan khusus perempuan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, sekolah serupa (Sakola Isteri) telah menyebar di berbagai wilayah Jawa Barat.

3. R. Otto Iskandardinata

Dikenal luas dengan julukan “Si Jalak Harupat” karena sikapnya yang jujur dan berani, Otto Iskandardinata lahir di Bandung (1897). Lulusan Sekolah Guru Atas ini pernah menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet pertama Indonesia. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama (Otista) dan stadion di Bandung.

4. Suwarsih Djojopuspito

Berasal dari Bogor (1912), Suwarsih adalah seorang novelis dan pendidik yang produktif menulis dalam tiga bahasa (Belanda, Indonesia, dan Sunda). Ia merupakan lulusan Kartini School Bogor dan sekolah guru Belanda (Europeesche Kweekschool) di Surabaya.

5. Raden Ayu Lasminingrat

Sebagai putri seorang ahli sastra Pasundan, Lasminingrat mendirikan Sakola Kautamaan Istri pada 1907. Ia dikenal pandai berbahasa Belanda dan aktif menerjemahkan cerita-cerita Grimm bersaudara untuk disesuaikan dengan konteks lokal. Karya terkenalnya, “Warna Sari,” menyuarakan pentingnya hak-hak perempuan.

6. Raden Siti Jenab

Raden Siti Jenab adalah alumni Sekolah Raden Dewi (sekolah milik Dewi Sartika). Ia gigih memperkenalkan pendidikan perempuan di Cianjur dengan metode unik, yakni mendatangi rumah ke rumah. Sekolah yang didirikannya mengajarkan kurikulum modern, termasuk bahasa Belanda, Melayu, Sunda, dan budi pekerti.

7. Iwa Koesoema Soemantri

Lahir pada 1899, Iwa Koesoema Soemantri adalah seorang ahli hukum dan pengarang. Ia pernah menjabat sebagai menteri dan memegang amanah sebagai Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) yang pertama. Namanya kini diabadikan sebagai nama salah satu kampus di Unpad.

8. Achmad Soebardjo

Achmad Soebardjo, yang lahir di Karawang (1896), memegang peran krusial dalam diplomasi awal Indonesia. Ia tercatat dalam sejarah sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama, yang meletakkan dasar-dasar politik luar negeri bangsa yang baru merdeka.

9. R.E. Martadinata

Raden Eddy Martadinata, lahir di Bandung (1921), adalah tokoh sentral di bidang kemaritiman. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi pelaut dan kemudian berperan besar dalam membangun serta memodernisasi Angkatan Laut Indonesia (saat itu ALRI).

10. Prof. Dr. Kusumaatmaja

Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja (Prof. Dr. Kusumaatmaja) lahir di Purwakarta (1898). Lulusan doktor hukum dari Universitas Leiden (1922) ini ditugasi membentuk Mahkamah Agung (MA) pada 1945 dan menjabat sebagai Ketua MA pertama di Indonesia, membangun fondasi yudikatif negara.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini