JURNALZONE.ID – Puluhan ribu pendukung oposisi membanjiri jalanan ibu kota Turki, Ankara, pada Minggu (14/9/2025), untuk memprotes proses peradilan yang berpotensi membubarkan partai oposisi utama, Partai Rakyat Republik (CHP). Aksi massa ini digelar sehari sebelum pengadilan dijadwalkan mengeluarkan putusan krusial pada hari ini, Senin (15/9/2025).
Massa yang berkumpul meneriakkan tuntutan agar Presiden Recep Tayyip Erdogan mundur sambil mengibarkan bendera nasional dan spanduk partai. Putusan pengadilan hari ini dapat mengubah lanskap politik dan keuangan Turki secara drastis, terutama menjelang pemilu nasional 2028.
Dilansir dari theguardian.com, Ketua CHP, Özgür Özel, dalam orasinya menuduh pemerintah secara sistematis merusak demokrasi untuk mempertahankan kekuasaan. Ia menyebut proses hukum terhadap partainya sebagai serangan politik.
“Kasus ini bermotif politik. Tuduhannya adalah fitnah. Kawan-kawan kami tidak bersalah. Apa yang sedang terjadi adalah kudeta, kudeta terhadap calon presiden masa depan, terhadap pemerintahan masa depan,” ujar Özel di hadapan massa.
Tuduhan ini muncul setelah tindakan hukum masif selama setahun terakhir. Menurut tinjauan Reuters, lebih dari 500 anggota CHP, termasuk 17 wali kota dan Wali Kota Istanbul Ekrem İmamoğlu, telah ditahan atas berbagai tuduhan mulai dari korupsi hingga terorisme. Pemerintah Turki sendiri membantah adanya motif politik dan menyatakan peradilan berjalan independen.
Dari dalam penjara, Ekrem İmamoğlu, yang dianggap sebagai rival utama Erdoğan, mengirimkan surat yang dibacakan dalam aksi tersebut. Ia menuduh pemerintah mencoba menyingkirkan lawan politik yang sah.
“Era ‘saya’ di negeri ini akan berakhir, dan era ‘kita’ akan dimulai. Satu orang akan kalah, dan semua orang lainnya akan menang,” tulis İmamoğlu dalam suratnya yang disambut riuh para demonstran.


