Sejumlah layanan internet dan aplikasi terkemuka dunia, termasuk Roblox, Snapchat, dan Fortnite, berangsur pulih pada Senin (20/10/2025) setelah mengalami kelumpuhan massal selama beberapa jam. Pemulihan ini terjadi setelah Amazon Web Services (AWS), sebagai penyedia komputasi awan utama, berhasil mengatasi masalah operasional parah yang menimpa salah satu pusat datanya di Virginia Utara.
Pihak Amazon, melalui laman status layanannya, mengonfirmasi bahwa masalah yang menjadi penyebab utama gangguan telah “dimitigasi sepenuhnya” (fully mitigated) pada pukul 06:35 ET. Meskipun demikian, AWS memperingatkan bahwa pengguna mungkin masih akan mengalami penundaan saat layanan kembali normal secara bertahap.
Akar Masalah di Server Virginia Utara
Gangguan ini pertama kali dilaporkan oleh AWS pada pukul 12:11 PT (03:11 ET) sebagai “masalah operasional” yang memengaruhi 14 layanan berbeda di pusat data US-EAST-1, Virginia Utara. Akar masalah teridentifikasi berasal dari eror pada DynamoDB, sebuah sistem manajemen database krusial yang digunakan oleh ribuan aplikasi.
Kegagalan sistem inti ini segera memicu efek domino. Puluhan layanan yang mengandalkan infrastruktur AWS untuk hosting data dan komputasi seketika tidak dapat diakses oleh jutaan pengguna di seluruh dunia. Bahkan, sistem tiket dukungan pelanggan AWS dilaporkan ikut offline, sehingga menyulitkan pelanggan untuk melaporkan masalah.
Dampak Luas dan Sorotan Kerapuhan Sistem
Insiden ini melumpuhkan layanan di berbagai sektor. Downdetector mencatat keluhan massal pada game populer Roblox dan Fortnite, layanan komunikasi Snapchat dan Signal, platform finansial Coinbase, hingga layanan streaming milik Disney dan Amazon Prime Video.
Kelumpuhan ini menyoroti kerapuhan infrastruktur digital modern yang sangat bergantung pada segelintir penyedia cloud. Organisasi Article 19, yang fokus pada kebebasan berekspresi, menyoroti risiko dari sentralisasi ini, terutama ketika aplikasi komunikasi aman seperti Signal ikut tumbang.
“Gangguan ini bukan hanya masalah teknis, ini adalah kegagalan demokrasi. Ketika satu penyedia tumbang, layanan-layanan penting ikut offline—outlet media menjadi tidak dapat diakses, aplikasi komunikasi aman seperti Signal berhenti berfungsi, dan infrastruktur yang melayani masyarakat digital kita runtuh,” ujar Corinne Cath-Speth, kepala digital Article 19.





