Gelombang laporan dari masyarakat seketika membanjiri linimasa sesaat setelah guncangan tektonik melanda wilayah Jawa Barat siang tadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa bermagnitudo 3,0 telah terjadi pada pukul 13:45:33 WIB.
Pusat getaran tercatat berada di koordinat 6,85 Lintang Selatan (LS) dan 107,73 Bujur Timur (BT), atau tepatnya 19 kilometer arah Timur Laut Kota Cimahi. Meskipun pusatnya berada di Cimahi, kesaksian warga di media sosial justru menunjukkan distribusi getaran yang lebih intens di wilayah sekitarnya pada Jumat, 06/02/2026.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi penduduk Bandung Raya mengenai betapa aktifnya struktur patahan lokal di wilayah pemukiman padat. Berbagai kesaksian unik muncul dari warga yang berada di titik berbeda saat energi seismik tersebut merambat ke permukaan.
Kesaksian dari Bengkel hingga Bangunan Bertingkat
Laporan langsung datang dari seorang warga bernama Apriawan yang sedang melakukan perawatan kendaraan di bengkel Mitsubishi RCK. Ia mendeskripsikan kondisi saat itu terasa sangat bergoyang sehingga memicu kewaspadaan bagi para teknisi dan pelanggan di area bengkel.
Getaran ini ternyata menjalar cukup jauh hingga dirasakan secara nyata oleh warga di Cileunyi dan Tanjungsari, Sumedang. Kesaksian dari akun @gapunya9nyawa dan @Hsguk6 memperkuat bukti bahwa jangkauan gempa ini meluas ke arah Timur dari titik episenter asal.
Fenomena menarik dilaporkan oleh warga yang berada di bangunan bertingkat kawasan pendidikan Jatinangor. Seorang pengguna media sosial, @julibukanmei, menyebutkan bahwa guncangan terasa sangat kuat di lantai 3, sementara warga yang berada di lantai dasar justru tidak merasakan apa pun.
Paradoks Getaran: Mengapa Cimahi Justru “Sepi” Getaran?
Muncul narasi menarik dari warga yang berdomisili di Kota Cimahi, yang secara administratif merupakan lokasi pusat gempa. Salah satu warga dengan akun @myzzzqaaa_ mengaku justru tidak merasakan getaran sama sekali meski sedang berada di wilayah Cimahi.
Hal ini menciptakan diskusi di kalangan netizen mengenai mengapa wilayah yang lebih jauh seperti Jatinangor justru melaporkan guncangan yang lebih “oyag” atau bergoyang. Secara teknis, perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik tanah lokal dan kedalaman gempa yang sangat dangkal, yakni hanya 5 kilometer.
Kondisi tanah di Jatinangor yang cenderung berupa sedimen dapat memperkuat ayunan gelombang seismik yang melintas di bawahnya. Selain itu, faktor ketinggian bangunan turut menjadi variabel kunci mengapa penghuni lantai atas merasakan guncangan yang jauh lebih hebat dibandingkan warga di permukaan tanah.
Tindakan Pasca-Gempa dan Validasi Data BMKG
Pihak BMKG memberikan catatan bahwa data awal ini bersifat dinamis karena mengutamakan kecepatan penyampaian informasi kepada publik. Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan adanya perubahan parameter data seiring masuknya laporan dari stasiun sensor yang lebih lengkap.
Warga diimbau untuk tidak terpancing oleh unggahan yang bersifat spekulatif tanpa rujukan data ilmiah yang jelas. Pemeriksaan terhadap integritas bangunan, terutama pada struktur utama dan atap, menjadi langkah preventif yang paling rasional untuk dilakukan saat ini.
Kejadian pada (6/2) ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya mitigasi bencana mandiri bagi masyarakat di kawasan rawan sesar lokal. Selalu pantau kanal resmi untuk mendapatkan informasi yang sudah melewati tahap stabilisasi data oleh para ahli seismologi nasional.