JURNALZONE.ID – Keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta akhirnya menetapkan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi sebagai Pakubuwono (PB) Ke-14. Penetapan ini diputuskan dalam pertemuan kerabat besar dan Lembaga Dewan Adat di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta, Kamis (13/11/2025).
Langkah ini diambil dengan tujuan utama menyatukan kembali keluarga besar keraton dan mengakhiri konflik internal yang telah berlangsung lama. Keputusan ini dikonfirmasi oleh Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Murtiyah Wandansari.
Niat Menyatukan Keluarga Besar
Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Murtiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, mengungkapkan pertemuan itu dihadiri berbagai perwakilan keluarga. Turut hadir Maha Menteri Panembahan Agung Tejowulan dan perwakilan PAKASA (Paguyuban Kawula Keraton Surakarta) dari berbagai kabupaten.
Gusti Moeng menegaskan bahwa niat utama dari pertemuan tersebut adalah rekonsiliasi internal.
“Kita akan menyatukan keluarga besar, juga menyatukan di dalam. Istilahnya semua ketemu pada keraton, di beberapa kabupaten semua datang. Yang paling utama niatan kita supaya keraton itu, apa ya, keributan yang dulu-dulu itu jadi satu,” ujar Gusti Moeng kepada wartawan.
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa fokus utama pertemuan adalah mengakhiri perpecahan yang pernah terjadi di masa lalu dan mengembalikan keutuhan keraton.
Menyambut Rencana Revitalisasi
Selain rekonsiliasi internal, Gusti Moeng menambahkan bahwa langkah ini juga diambil untuk menyambut baik inisiatif pemerintah yang berencana melakukan revitalisasi Keraton Surakarta. Menurutnya, revitalisasi ini tidak hanya mencakup aspek fisik bangunan, tetapi juga pelestarian nilai budaya serta penguatan kelembagaan adat.
“Waktu kejadian itu saya membentuk tim lima. Keinginan pemerintah untuk merevitalisasi keraton tidak hanya fisik, ini kan harus kita sambut,” ucapnya.
Terkait konflik sebelumnya, ia juga menegaskan bahwa persoalan internal yang terjadi dengan pihak Sasono Putro kini dianggap telah selesai. Fokus seluruh kerabat saat ini adalah menjaga persatuan dan melestarikan tradisi.
“Kita menyatu saja. Yang penting kita adalah menjaga keutuhan sentono dan melestarikan keraton, pastinya dengan kemampuan dan keinginan masing-masing,” katanya.
Proses Penobatan Spontan
Dalam tatanan baru ini, Gusti Moeng menjelaskan bahwa Panembahan Agung Tejowulan (Gusti Tejo) tetap berperan sebagai sesepuh. Beliau akan menjadi penghubung utama untuk koordinasi antara kerabat keraton dengan pihak pemerintah.
“Koordinasinya tetap Gusti Tejo sebagai sesepuh, tapi semua apa yang kita lakukan harus melibatkan beliau untuk koordinasi dengan pemerintah,” ujarnya.
Menariknya, Gusti Moeng menyebut proses penobatan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV terjadi secara spontan, tepat pada saat pertemuan akan ditutup. Ia mengaku kaget namun meyakini hal itu sesuai dengan paugeran (aturan adat) dan merupakan kehendak Tuhan.
“Penobatan Paku Buwono ke-14 yang mana kami sendiri juga kaget, kejadian waktu mau nutup peting itu kok tiba-tiba melangkah seperti itu. Kami berpegang pada yang jenengi hak, itu kan Gusti Allah sing maringi. Gusti Bei (Hangabehi) tidak minta dilahirkan lebih tua daripada Purboyo, ya itu kehendak Allah,” jelasnya.
Dengan penetapan ini, keluarga besar Keraton Surakarta berharap kepemimpinan baru di bawah PB XIV dapat menjadi titik balik untuk memulihkan marwah dan kelestarian budaya Jawa di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sumber berita:
- https://rri.co.id/daerah/1971331/kgph-hangabehi-dinobatkan-jadi-pakubuwono-ke-14-oleh-keluarga-besar-keraton