Viral seruan untuk memboikot stasiun televisi Trans7 menggema luas di media sosial, dimotori oleh komunitas santri dan alumni pesantren di seluruh Indonesia. Akar masalahnya adalah tayangan program “Xpose Uncensored” yang dinilai telah melecehkan dan salah merepresentasikan tradisi luhur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dengan narasi yang dianggap sempit, sepihak, dan tidak berimbang.
Judul Provokatif dan Narasi Sepihak
Gerakan boikot ini meledak setelah Trans7 menayangkan episode “Xpose Uncensored” dengan judul yang dianggap provokatif: “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”. Judul ini, beserta narasi di dalamnya, membuat warganet geram karena dianggap merendahkan martabat kiai, santri, dan institusi pondok pesantren secara keseluruhan.
Tayangan tersebut dinilai gagal menyajikan pemberitaan yang berimbang. Menurut poster-poster protes yang beredar, para santri merasa bahwa dunia luar kerap memandang pesantren dengan kacamata yang sempit, di mana kedisiplinan dianggap sebagai penindasan, penghormatan sebagai feodalisme, dan pengabdian sebagai bentuk perbudakan.
Salah Tafsir Tradisi Tawadhu dan Khidmah
Kemarahan publik berpusat pada tiga poin utama dalam tayangan yang dianggap salah menafsirkan tradisi pesantren:
- Sikap Tawadhu (Rendah Hati): Program tersebut menyoroti santri yang berjalan jongkok saat menghadap kiai. Dalam tradisi Islam dan pesantren, sikap ini adalah wujud tawadhu atau kerendahan hati seorang murid di hadapan guru untuk mengharap keberkahan ilmu. Namun, tayangan tersebut membingkainya seolah-olah itu adalah praktik yang aneh atau merendahkan.
- Memberi Hadiah kepada Kiai: Adegan santri memberikan amplop kepada kiai dinarasikan sebagai penyebab kekayaan sang kiai, yang kemudian mampu membeli mobil mewah dan sarung berharga jutaan. Hal ini dianggap mengabaikan konteks bahwa pemberian itu sering kali merupakan wujud terima kasih atau tabarrukan (mencari berkah), bukan sebuah kewajiban.
- Pengabdian (Khidmah): Tayangan itu juga menyoroti santri yang membersihkan lingkungan pondok dan kediaman kiai. Narasi yang dibangun seolah menggambarkan para santri dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan asisten rumah tangga. Padahal, dalam dunia pesantren, khidmah atau mengabdi kepada guru dan pesantren adalah bagian dari pendidikan karakter dan diyakini sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Suara dari Komunitas Pesantren
Salah satu akun berpengaruh di kalangan santri, @cahpondok, menyuarakan kekecewaannya dan menegaskan seruan boikot. Akun tersebut menjelaskan kompleksitas yang gagal diungkap oleh Trans7.
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang, banyak Kiai yang kaya dari hasil usaha mereka sendiri, atau banyak dari mereka yang hidup dengan serba kekurangan, beberapa mobil mewahpun, itu juga kadang pemberian dari santri yang kadang menjadi Kaya, karena diberikan modal oleh Kiyai, banyak faktor yang tidak diklarifikasi oleh media sebesar @officialtrans7. Akhirnya sekali lagi kami serukan #BOIKOTTRANS7,” tulis akun tersebut.
Sumber:
- https://tirto.id/kenapa-boikot-trans7-viral-di-medsos-berkaitan-dengan-pesantren-hjxG
- https://mui.or.id/baca/berita/warganet-serukan-boikot-trans7-imbas-singgung-pesantren-lirboyo-dan-pengasuhnya-kh-anwar-manshur





