Kenapa IHSG Turun Hari Ini? Bikin Kaget

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Kenapa IHSG Turun

JURNALZONE.IDIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual hebat hingga ambruk lebih dari 3% pada sesi II perdagangan, Selasa (14/10/2025). Pelemahan drastis ini membuat IHSG harus meninggalkan level psikologis 8.000, setelah pada pukul 14.00 WIB tercatat berada di posisi 7.977,87.

Anjloknya indeks terutama dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) besar-besaran pada saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, serta pergeseran investor ke aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global. (Update: 14 Oktober, IHSG Ditutup Turun 1,95%)

Saham Grup Barito Jadi Pemberat Utama

IHSG sebenarnya mengawali hari dengan positif, dibuka menguat 0,36% ke level 8.257,09. Namun, sentimen pasar berbalik arah menjelang penutupan sesi I yang berakhir dengan koreksi 0,68%. Menurut data Refinitiv, saham-saham emiten Prajogo Pangestu menjadi pemberat utama sejak sesi pertama.

Pelemahan semakin dalam pada sesi kedua. Saham-saham seperti Chandra Daya Investasi (CDIA) anjlok 14,47%, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 13%, Barito Pasific (BRPT) terkoreksi 8,08%, dan Chandra Asri Pasific (TPIA) melemah 7,45%. Aksi jual ini tidak terlepas dari kenaikan signifikan saham-saham tersebut dalam sebulan terakhir, di mana BRPT telah meroket 72,65% dan CUAN terbang 68,77%, sehingga memicu investor untuk merealisasikan keuntungan.

Analis: Profit Taking dan Pergeseran ke Aset Aman

Dilansir dari CNBC Indonesia, VP Marketing Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menilai koreksi tajam IHSG hari ini didorong oleh aksi profit taking yang wajar. Menurutnya, kenaikan indeks sebelumnya tidak didukung oleh volume transaksi yang kuat dan indikator RSI telah menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), sehingga memicu koreksi teknikal.

“Dengan kenaikan harga komoditas safe havens, seperti emas yang mencatatkan kenaikan signifikan dan menyentuh new ATH di atas level $4.100, menunjukkan investor cenderung mencari aset yang lebih stabil,” ujar Oktavianus.

Senada dengan hal tersebut, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan penurunan saham-saham berkapitalisasi besar mengindikasikan investor sedang mengalihkan asetnya ke instrumen yang lebih aman.

“Saya ingat sebelumnya Goldman Sachs memperkirakan harga XAU/USD di 2026 akan menyentuh pada level 5.000 karena global uncertainties remain. Menyusul emas, harga perak mengalami kenaikan ke level tertinggi sepanjang masa, karena dianggap sebagai aset safe haven oleh para pelaku investor,” kata Nafan.

Sentimen Global Turut Membayangi

Selain faktor domestik, pasar juga bergerak hati-hati di tengah sentimen global. Meskipun ketegangan AS-Tiongkok sedikit mereda setelah pernyataan terbaru Presiden Donald Trump, investor masih menantikan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, di acara NABE Annual Meeting. Pidato Powell mengenai prospek ekonomi dan kebijakan moneter akan menjadi acuan penting bagi arah pasar selanjutnya, terutama setelah The Fed memangkas suku bunga bulan lalu.

Meski sempat anjlok dalam, IHSG terpantau memangkas sebagian penurunannya menjelang penutupan. Hal ini didorong oleh aksi beli di harga bawah pada saham-saham Prajogo Pangestu yang sempat terkoreksi tajam.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini