Jerome Powell Sinyalkan Tak Ada Penurunan Suku Bunga September

Jerome Powell

Jurnalzone.id, FlashNews -Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada hari Kamis, (31/7/2025) menegaskan bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang tangguh saat ini menjadi penentu utama arah kebijakan moneter. Sinyal ini secara efektif meredupkan harapan pasar akan adanya pemotongan suku bunga pada bulan September dan mengurangi kemungkinan pelonggaran lebih lanjut sepanjang tahun ini.

Fokus Utama pada Tingkat Pengangguran

Dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Powell menyatakan bahwa langkah The Fed selanjutnya akan bergantung pada “totalitas” data ekonomi yang masuk. Meskipun ia mengakui adanya argumen untuk melonggarkan kebijakan—seperti pelemahan belanja konsumen dan pertumbuhan PDB yang hanya 1,2% di paruh pertama tahun ini—ia menyoroti satu data sebagai prioritas utama.

“Angka utama yang harus Anda perhatikan saat ini adalah tingkat pengangguran,” kata Powell kepada wartawan. Ia menekankan bahwa tingkat pengangguran yang saat ini berada di angka 4,1% hampir tidak bisa menjadi pembenaran untuk memotong suku bunga.

Sikap tegas Powell ini menjadi lebih signifikan mengingat adanya dua suara berbeda pendapat (dissenters) dalam pertemuan tersebut. Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman memilih untuk mendukung pelonggaran kebijakan, menandai pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun ada dua suara penentang dalam rapat kebijakan The Fed.

Reaksi Keras Pasar Keuangan

Pasar keuangan merespons pesan Powell dengan cepat dan jelas. Wall Street mengalami kemunduran, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, dan nilai tukar dolar melonjak. Di pasar uang, spekulasi untuk pemotongan suku bunga mendingin secara signifikan.

Pasar berjangka suku bunga (rates futures markets) kini menunjukkan bahwa probabilitas pemotongan seperempat poin pada bulan September pada dasarnya hanya 50:50 (coin toss), sebuah posisi paling tidak dovish (cenderung ketat) dalam lebih dari setahun. Pasar saat ini hanya memproyeksikan satu kali pemotongan suku bunga hingga akhir tahun.

Steven Englander, kepala riset valas G10 global di Standard Chartered, mengatakan sulit untuk membantah interpretasi pasar. “Powell cukup jelas bahwa dia mengikat dirinya pada tingkat pengangguran,” catat Englander.

Tantangan Inflasi dan Risiko Tarif

Selain pasar tenaga kerja, tingkat inflasi juga menjadi alasan bagi The Fed untuk berhati-hati. Menurut Powell, inflasi tahunan berjalan “agak” di atas target 2% The Fed, dengan inflasi inti CPI berada di 2,9% dan inflasi inti PCE di 2,8%.

Risiko kenaikan harga juga membayangi akibat dampak tarif impor yang belum sepenuhnya terasa dalam perekonomian. Powell memperkirakan dampak tarif hanya akan bersifat kenaikan harga satu kali, namun ia mengakui tidak ada yang bisa memastikannya. Hal ini menciptakan ketidakpastian yang membuat The Fed cenderung menunggu.

Pergeseran sentimen pasar ini sangat drastis. Sebagai perbandingan, pada awal April, para pedagang memproyeksikan pelonggaran lebih dari 130 basis poin (bps) tahun ini. Sebulan yang lalu, ekspektasinya adalah sekitar 70 bps, namun kini angka tersebut telah turun menjadi hanya sekitar 35 bps.