Jalur Sutra Modern (Belt Road Initiative) Geser Kekuatan Ekonomi China ke Wilayah Barat

Jalur Sutra Modern China

Pemerintah China melalui Belt and Road (BR) Initiative berhasil mendorong pergeseran pusat kekuatan ekonomi dari wilayah pesisir timur yang telah mapan ke kota-kota di pedalaman bagian barat. Proyek ambisius yang dihidupkan kembali dari jalur sutra kuno ini secara strategis meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota-kota seperti Chengdu dan Chongqing, menjadikannya sebagai gerbang perdagangan baru di Eurasia.

Inisiatif ini telah mendapatkan dukungan internasional yang signifikan, terutama setelah penyelenggaraan BR Forum di Beijing pada Mei 2017. Dilansir dari laporan ASIA INSIGHTS, forum tersebut menghasilkan lebih dari 270 perjanjian kerja sama yang melibatkan 68 negara dan berbagai organisasi internasional seperti PBB, Bank Dunia, dan IMF.

Komitmen pendanaan masif dari China, termasuk tambahan kontribusi US$15 miliar untuk Silk Road Fund, pinjaman US$57 miliar, dan bantuan US$9 miliar bagi negara berkembang, menjadi sinyal kuat keseriusan proyek global ini.

Inisiatif Global dengan Dukungan Internasional

Dukungan terhadap BR Initiative terus mengalir dari berbagai penjuru dunia. Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, menyatakan bahwa para peserta forum menunjukkan minat yang besar dan langsung membahas rencana-rencana kerja yang terperinci. Hal ini menegaskan bahwa inisiatif yang digagas Presiden Xi Jinping pada 2013 itu telah berevolusi dari sekadar proyek China menjadi upaya kolektif internasional untuk mendorong pertumbuhan dan globalisasi.

Pada awalnya, proyek ini dilihat sebagai upaya China untuk memperluas pengaruhnya ke barat. Wakil Direktur Pusat Penelitian Pembangunan Dewan Negara China, Zhang Junkuo, mengatakan,

“ide Jalur Sutra bertujuan untuk memperluas saluran pembangunan China ke arah barat, sekaligus dapat menciptakan peluang baru untuk mempercepat transformasi ekonomi di dalam negeri.”

Namun seiring waktu, visi tersebut berkembang menjadi sebuah platform kerja sama global yang saling menguntungkan bagi semua negara partisipan, meskipun China diperkirakan akan mendapatkan keuntungan terbesar secara ekonomi dan politik.

Kebijakan Go-West Jadi Fondasi Pembangunan

Kebangkitan wilayah barat China sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2000 melalui strategi “Go-West” yang bertujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi di kawasan tersebut. Antara tahun 2000 hingga 2016, pemerintah China telah menginvestasikan US$950 miliar untuk 300 proyek infrastruktur dan energi besar di wilayah barat. BR Initiative secara efektif mempercepat laju strategi yang sudah berjalan ini.

Hasilnya terlihat dari data pertumbuhan ekonomi regional yang impresif. Pada semester pertama 2017, Chongqing mencatatkan pertumbuhan PDB regional tertinggi di China sebesar 10,5%, diikuti oleh Provinsi Guizhou yang juga berada di wilayah barat dengan angka 10,4%.

Angka ini jauh melampaui target pertumbuhan PDB nasional China yang berada di angka 6,7% pada tahun 2017, menunjukkan momentum ekonomi yang kuat di kawasan tersebut.

Chengdu Raksasa Baru di Jalur Sutra Modern

Chengdu, ibu kota provinsi Sichuan, menjadi salah satu contoh paling nyata dari transformasi ini. Kota yang secara historis merupakan titik awal Jalur Sutra Selatan kuno kini menjelma menjadi pusat ekonomi modern. PDB Chengdu pada 2016 mencapai US$182 miliar dengan laju pertumbuhan 7,7%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Kota ini kini menjadi rumah bagi 299 perusahaan Fortune 500 dan 14 konsulat asing.

Beberapa capaian penting Chengdu berkat BR Initiative dan kebijakan Go-West meliputi pendirian Zona Perdagangan Bebas pada 2017, pembangunan bandara internasional kedua yang akan rampung pada 2020, serta menjadi kota pertama yang mengoperasikan jalur kereta kargo China-Eropa. Perkembangan pesat ini memicu lonjakan permintaan properti komersial dan residensial, di mana harga properti di area inti kota meningkat sekitar 25% dalam dua tahun terakhir.

Secara keseluruhan, Belt and Road Initiative yang didukung oleh kebijakan Go-West telah berhasil mengubah peta ekonomi China. Pergeseran pusat pembangunan ke arah barat tidak hanya menciptakan mesin pertumbuhan baru bagi negara tersebut, tetapi juga membuka peluang investasi yang besar di kota-kota yang sebelumnya tertinggal, seperti Chengdu dan Chongqing, yang kini berada di fase pertumbuhan pesat.