Kasus dugaan bunuh diri yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana (Unud), pada Rabu (15/10/2025), memasuki babak baru. Kemarahan publik meledak setelah beredarnya tangkapan layar percakapan tidak berempati dari sejumlah mahasiswa pasca-kejadian tragis tersebut. Timothy, mahasiswa Sosiologi FISIP Unud, diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai empat gedung fakultas akibat perundungan.
Menyusul viralnya konten tersebut, pihak Universitas Udayana menjatuhkan sanksi tegas berupa pemecatan dari organisasi kemahasiswaan (ormawa) terhadap enam mahasiswa yang terlibat. Keenam mahasiswa tersebut kini telah tampil di hadapan publik untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Rest in peace, Timothy 🕊️
— kih. (@rzkdhl) October 17, 2025
And, may you guys who laughed at his death will never live in peace. pic.twitter.com/4kXVeNNBQx
Isi Chat Viral Picu Kemarahan Publik
Kecaman publik bermula dari sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) oleh akun @paledungdee. Unggahan tersebut memperlihatkan tangkapan layar berisi komentar tidak pantas yang dilontarkan di tengah suasana duka. Salah satu komentar yang menjadi sorotan ditulis oleh Leonardo Jonathan.
“Nahan tawa gue jir wkwkwk,” tulisnya seraya menyertakan foto kondisi korban sesaat setelah kejadian.
Tak berhenti di situ, ia juga menulis, “Coba bikin cin, sejajarin muka Kekeyi sama dia wkwkwk.”
Unggahan tersebut sontak menjadi viral dan menuai kutukan dari warganet yang menilai tindakan itu sebagai cerminan hilangnya rasa empati. Akun @paledungdee yang pertama kali mengangkat isu ini menuliskan, “Ada ya orang setolol dan nirempati gini! Nih orang kek gini mending lah klo jadi babi. Sakit banget baca beritanya. Rest in Peace Timothy.”
Enam Mahasiswa Akui Kesalahan dan Minta Maaf
Setelah mendapat tekanan publik dan sanksi dari universitas, keenam mahasiswa yang terlibat akhirnya mengakui kesalahan mereka. Melalui sebuah video yang diunggah di media sosial, mereka menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf kepada keluarga almarhum Timothy, pihak kampus, serta seluruh masyarakat.
Keenam mahasiswa tersebut adalah Leonardo Jonathan Handika Putra (Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan), Putu Ryan Abel Perdana Tirta (Ketua Komisi II DPM FISIP), serta empat pengurus Himapol FISIP Unud, yaitu Maria Victoria Viyata Mayos, Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, dan Vito Simanungkalit. Mereka menyatakan siap bertanggung jawab atas perbuatan yang telah melukai banyak pihak.
Kasus ini tidak hanya menyoroti tragedi yang menimpa Timothy, tetapi juga membuka borok perilaku tidak etis di kalangan mahasiswa. Insiden ini menjadi pengingat kolektif akan pentingnya menumbuhkan empati dan menjaga kesehatan mental di lingkungan akademik, serta konsekuensi serius dari perundungan verbal maupun siber.