Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin memprihatinkan pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Berdasarkan pantauan data pukul 10.00 WIB, indeks komposit terpantau merosot hingga 10,08 persen dan sempat menyentuh level 7.482,03 basis poin.
Penurunan tajam ini merupakan kelanjutan dari guncangan besar yang terjadi sejak pembukaan pasar pagi tadi. Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah mengaktifkan mekanisme trading halt atau pembekuan perdagangan sementara tepat pada pukul 09:26:01 waktu JATS.
Langkah darurat tersebut diambil otoritas bursa setelah IHSG terperosok sedalam 8% ke posisi 7.654,66. Setelah pembekuan selama 30 menit berakhir, perdagangan saham kembali dilanjutkan pada pukul 09:56:01 waktu JATS, namun tekanan jual investor terpantau tetap tidak terbendung.
Memasuki pukul 10.00 WIB, sebanyak 694 saham tercatat mengalami penurunan, berbanding terbalik dengan 34 saham yang naik, dan 230 saham lainnya tidak bergerak. Aktivitas pasar pada jam tersebut mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 10,78 triliun dengan volume mencapai 12,07 miliar saham dalam 852.200 kali frekuensi transaksi.
Kejatuhan bursa hari ini masih dibayangi oleh sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga tersebut menyoroti kekhawatiran investor global atas transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI.
MSCI menjelaskan bahwa meskipun pelaku pasar mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), data tersebut dinilai belum cukup andal. Banyak investor global meragukan kategorisasi pemegang saham KSEI untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Selain itu, Goldman Sachs turut menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight mengikuti peringatan dari MSCI. Bank investasi asal Amerika Serikat ini menilai pasar saham Indonesia sedang menghadapi persoalan struktural yang serius terkait kepemilikan saham.
“Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporan terbarunya yang dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).
Faktor eksternal lain yang memperparah keadaan adalah penantian pelaku pasar terhadap hasil rapat FOMC The Fed. Selain itu, rilis data neraca dagang Amerika Serikat juga menjadi fokus utama karena berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi global secara signifikan.