PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang besar untuk mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau All-Time High (ATH) baru di level 9.000 dalam waktu dekat. Optimisme ini didasarkan pada pergerakan indeks yang konsisten menembus rekor baru serta dukungan fundamental emiten yang solid di tengah dinamika pasar modal Indonesia.
Momentum Menuju Level Psikologis Baru
Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menegaskan bahwa pencapaian IHSG ke level 9.000 bukanlah hal yang mustahil, mengingat tren positif yang terjadi belakangan ini. Berdasarkan data perdagangan, IHSG terpantau bergerak di kisaran 8.676,05 pada perdagangan Selasa (9/12/2025).
Oki menilai bahwa momentum pasar saat ini sangat mendukung terciptanya rekor baru. Frekuensi IHSG menyentuh titik tertinggi dalam beberapa bulan terakhir menjadi indikator kuat adanya tren bullish yang berkelanjutan.
“Sekarang kita lihat saja sudah berapa kali touch peak-nya, ya. Sudah 20 kali-an. Jadi kalau bisa achieve 9.000, ya. As a matter of time saja, ya.”
Pernyataan Oki tersebut menggarisbawahi keyakinan bahwa level 9.000 hanyalah persoalan waktu untuk dicapai. Tingginya frekuensi pemecahan rekor sebelumnya menjadi landasan optimisme bahwa pasar saham Indonesia sedang dalam fase pertumbuhan yang agresif.
Lonjakan Transaksi Investor Ritel
Selain tren indeks, Oki juga menyoroti tingginya aktivitas transaksi harian, khususnya dari segmen investor ritel. Antusiasme investor individu dinilai menjadi salah satu penopang likuiditas pasar yang signifikan.
“Menurut saya sih itu most likely akan tembus. Menurut saya, ya. Just matter cuma masalah waktu sih. Tapi kita lihat aja dari, kita aja retail value-nya, transaction value-nya kenceng banget. Tiap hari. Tiap hari tuh kita pernah touch Rp 2,6 triliun per day di aplikasi kita di Growin. Jadi luar biasa banget.”
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa partisipasi ritel melalui aplikasi Growin menunjukkan angka yang fantastis, mencapai Rp 2,6 triliun per hari. Hal ini menandakan kepercayaan investor domestik terhadap pasar modal masih sangat tinggi.
Valuasi Saham Masih Atraktif
Optimisme terhadap kenaikan IHSG juga didukung oleh valuasi saham yang dinilai masih cukup murah atau undervalued. Oki mencatat bahwa potensi pertumbuhan laba atau Earnings Per Share (EPS) emiten rata-rata mencapai 12 persen.
Peluang investasi ini tidak hanya terbatas pada saham-saham unggulan (blue-chip), tetapi juga menyebar ke berbagai emiten lapis kedua yang memiliki kinerja keuangan sehat.
“Lihat fundamental-nya, liat technical-nya, liat liquidity-nya. Banyak banget. Gak cuma blue-chip. Di luar blue-chip, itu banyak banget yang bagus fundamental-nya.”
Oki menambahkan bahwa investor memiliki banyak pilihan saham dengan fundamental bagus di luar jajaran saham big cap, yang turut berkontribusi pada penguatan indeks secara keseluruhan.
Rekor di Era Menkeu Purbaya
Senada dengan Mandiri Sekuritas, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengungkapkan data statistik mengenai frekuensi ATH yang terjadi sepanjang tahun 2025. Hingga awal Desember, IHSG tercatat telah menyentuh ATH sebanyak 22 kali.
Iman merinci bahwa mayoritas rekor tersebut tercipta pada era kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Distribusi pencapaian rekor ini menunjukkan respons positif pasar terhadap kebijakan ekonomi terkini.
“Sri Mulyani 1 kalinya, Pak Purbaya 21 kali karena tembus 8.000 zaman beliau, Pak. Jadi kalau kita bicara 8.000 and then setiap dua bulan ini naik terus, Pak, sampai kemarin 8.600.”
Data tersebut menegaskan bahwa di bawah era Menkeu Purbaya, pasar saham mengalami akselerasi signifikan, bergerak dari level 8.000 hingga menyentuh 8.710,69 pada penutupan Senin (8/12) lalu.
Proyeksi Jangka Panjang Pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri telah beberapa kali menyampaikan optimismenya terkait target IHSG. Ia memprediksi indeks dapat menembus level 9.000 pada akhir tahun ini dan mencapai level yang jauh lebih tinggi dalam satu dekade mendatang.
Purbaya menekankan bahwa proyeksinya didasarkan pada perhitungan siklus ekonomi dan data historis, bukan sekadar firasat. Menurutnya, pasar saham memiliki pola kenaikan empat hingga lima kali lipat dari titik terendah dalam setiap siklusnya.
“Makanya Indeks bisa naik ke atas. Kalau ditanya gimana Indeks? To the moon. Saya bilang itu menciptakan optimisme juga. Akhir tahun ini berapa? 9.000. (Dalam) 10 tahun lagi ke depan berapa? 32.000.”
Pernyataan Purbaya tersebut memberikan gambaran visi jangka panjang pemerintah terhadap pasar modal, di mana fundamental ekonomi yang kuat diharapkan mampu membawa IHSG ke level 32.000 di masa depan.





