Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tonggak sejarah baru pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026. Untuk pertama kalinya, IHSG berhasil menembus level psikologis 9.000. Berdasarkan data Bloomberg, indeks sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di 9.002 pada sekitar pukul 10.00 WIB.
Meskipun demikian, penguatan indeks tidak bertahan lama di atas level historis tersebut. Hingga pukul 10.50 WIB, IHSG terpantau masih bergerak di zona hijau dengan kenaikan 37,56 poin atau 0,42% ke posisi 8.982,38. Pergerakan ini mengindikasikan antusiasme pasar yang tetap kuat, meski aksi ambil untung jangka pendek mulai mewarnai setelah indeks mencapai rekor.
Seiring dengan penguatan indeks, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau cukup aktif. Hingga menjelang tengah hari, volume transaksi mencapai 24,56 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,33 triliun. Frekuensi perdagangan juga tergolong tinggi, mencapai sekitar 1,84 juta kali transaksi di pasar reguler.
Sentimen pasar secara umum cenderung positif. Sebanyak 365 saham tercatat menguat, berbanding dengan 279 saham yang melemah dan 161 saham stagnan. Komposisi ini mencerminkan dominasi minat beli investor, meskipun tekanan jual mulai muncul pada beberapa saham tertentu.
Saham Big Caps Jadi Penopang Utama
Penguatan IHSG pada perdagangan hari ini sangat ditopang oleh kontribusi signifikan dari saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps. Sejumlah emiten unggulan menjadi penopang utama pergerakan indeks, terutama yang berasal dari sektor energi, perbankan, dan industri berbasis sumber daya alam.
Berdasarkan data Bloomberg, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan sekitar 17,49 poin terhadap penguatan IHSG. Posisi kedua ditempati PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang menyumbang 6,91 poin. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berkontribusi 6,31 poin.
Selain itu, saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) juga turut menyumbang sekitar 4,30 poin, dan PT Petrosea Tbk. (PTRO) memberikan tambahan sekitar 3,43 poin. Kinerja positif saham-saham ini menunjukkan minat investor terhadap emiten dengan fundamental kuat dan eksposur pada sektor yang dinilai prospektif.
Prospek dan Potensi Volatilitas
Penembusan level 9.000 menjadi sinyal kuat optimisme pasar terhadap prospek ekonomi dan kinerja emiten di awal tahun 2026. Namun, pelaku pasar juga perlu mencermati potensi volatilitas jangka pendek, seiring kecenderungan investor melakukan realisasi keuntungan setelah reli panjang IHSG sejak awal tahun.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan akan terus dipengaruhi oleh dinamika saham-saham big caps, arus dana investor, serta perkembangan sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi arah pasar saham.





