Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan parah pada perdagangan sesi kedua, Selasa (14/10/2025), dengan anjlok lebih dari 3%. Penurunan drastis ini menyeret indeks keluar dari level psikologis 8.000, terutama dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham konglomerasi yang selama ini menjadi penopang utama pasar dan diperparah oleh sentimen negatif dari bursa regional.
Pembalikan Arah Drastis Pasca Sesi Siang
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 14.00 WIB, IHSG longsor lebih dari 250 poin (3%) ke level 7.980. Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat dengan pembukaan perdagangan pagi hari yang sempat dibuka menguat hingga 40 poin.
Pelemahan ini jauh lebih dalam dibandingkan penutupan sesi pertama, di mana IHSG hanya terkoreksi terbatas sebesar 55,87 poin atau 0,68% ke level 8.171. Nilai transaksi pada sesi pertama tercatat sebesar Rp 15,15 triliun, mengindikasikan tekanan jual yang masif baru terjadi pada sesi kedua.
Rontoknya Saham Konglomerat dan Seluruh Sektor
Pemicu utama anjloknya IHSG adalah kejatuhan saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps). Saham-saham yang dikendalikan oleh sejumlah konglomerat besar seperti Prajogo Pangestu (BREN, TPIA, BRPT), Haji Isam (PGUN, JARR), dan Happy Hapsoro (RAJA, RATU) dilaporkan rontok, bahkan sebagian di antaranya menyentuh batas auto reject bawah (ARB).
Tekanan jual ini merata di seluruh sektor tanpa terkecuali. Sektor energi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 5,18%, diikuti sektor bahan baku yang anjlok 4,83%, dan sektor transportasi yang jatuh 5%. Sektor-sektor lainnya seperti keuangan, infrastruktur, dan teknologi juga mencatatkan penurunan signifikan di atas 3%.
Sentimen Negatif dari Bursa Regional
Kejatuhan dahsyat IHSG sejalan dengan tren pelemahan di bursa utama Asia. Indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Strait Times Singapura kompak anjlok.
Sentimen negatif di kawasan ini memburuk setelah pemerintah China dilaporkan membalas kebijakan tarif tambahan yang sebelumnya diancamkan oleh Amerika Serikat, memanaskan kembali tensi perang dagang.
Meski demikian, di tengah kehancuran pasar, beberapa saham justru mampu melawan arus dan ditutup menguat hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA), di antaranya adalah saham MBTO, MRAT, SOHO, dan GZCO.





