Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah secara drastis dan anjlok signifikan pada sesi perdagangan Senin (27/10/2025). Hingga pukul 11.00 WIB, indeks komposit terpantau merosot 3,64% atau kehilangan 304,03 poin, membawanya ke level 7.970,79. Pelemahan tajam ini terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat dan mencetak rekor tertinggi baru (all-time high) di awal sesi.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sebenarnya membuka hari dengan optimisme, menguat 0,61% ke posisi 8.322,21. Indeks bahkan sempat menyentuh level rekor terbarunya di 8.354,67. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang kuat membuat indeks berbalik arah dan menyentuh level terendah harian sementara di 7.959,16.
Sektor Energi dan Properti Memimpin Pelemahan
Pelemahan indeks didorong oleh koreksi di berbagai sektor. Tiga sektor yang mencatatkan pelemahan terdalam adalah sektor properti yang anjlok 4,41%, diikuti sektor energi yang terkoreksi 4,25%, dan sektor perindustrian yang turun 3,72%.
Data pasar menunjukkan dominasi penjual atas pembeli. Tercatat sebanyak 553 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 131 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sebanyak 121 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak berubah harga.
Saham Big Caps Jadi Pemberat Utama
Anjloknya IHSG siang ini tidak terlepas dari rontoknya saham-saham berkapitalisasi pasar besar (Big Caps). Sejumlah saham, terutama dari grup Barito, menjadi pemberat utama indeks.
Saham PT Barito Renewables Energy (BREN) tercatat menjadi pemberat terbesar dengan mengurangi 56,56 poin terhadap indeks. Menyusul di belakangnya adalah PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang menekan indeks sebesar 41,88 poin, dan PT Barito Pacific (BRPT) sebesar 28,64 poin.
Selain itu, saham perbankan besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Mandiri (BMRI) turut berkontribusi negatif. Saham emiten tambang PT Amman Mineral Internasional (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan PT Petrosea (PTRO) juga masuk dalam daftar 10 saham pemberat indeks teratas.





