IHSG Anjlok 2,55% Efek Moody’s Pangkas Outlook Utang RI ke Negatif

IHSG sesi I Jumat (6/2) ambruk ke 7.921,62 usai Moody's turunkan outlook utang RI jadi Negatif. Cek daftar saham pemberat indeks selengkapnya di sini.
IHSG Anjlok 2,55% Efek Moody’s Pangkas Outlook Utang RI ke Negatif

Pagi ini, Jumat (6/2/2026), menjadi momen yang menguji mentalitas para pelaku pasar modal tanah air. Harapan menutup pekan dengan manis harus dikubur dalam-dalam setelah papan perdagangan menampilkan warna merah pekat sesaat setelah bel pembukaan berbunyi. Volatilitas kali ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan hantaman keras bagi portofolio investor.

Tepat pukul 09:00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung dibuka tertekan di posisi 7.945,04. Angka ini mencerminkan kejatuhan 1,96% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kepanikan pasar terbukti nyata. Belum sempat investor mengambil nafas, tekanan jual semakin tak terbendung. Hanya berselang dua menit, tepat pada pukul 09:02 WIB, koreksi IHSG makin dalam hingga menyentuh level 7.921,62.

Penurunan sedalam 2,55% dalam tempo sesingkat itu mengindikasikan adanya aksi jual agresif (panic selling) dari investor besar yang merespons perubahan fundamental makroekonomi secara instan.

Alarm Keras dari Moody’s Investors Service

Riset pagi dari Phintraco Sekuritas mengonfirmasi bahwa kejatuhan ini bukan tanpa sebab. Sentimen negatif datang dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service, yang merilis pembaruan peringkat pada malam tadi.

Secara mengejutkan, Moody’s menurunkan outlook pasar surat utang Indonesia. Status yang sebelumnya berada di level “Stabil”, kini dipangkas menjadi “Negatif”.

Bagi investor institusi—terutama asing—label “Negatif” adalah sinyal merah. Ini menandakan adanya peningkatan risiko fiskal atau ketidakpastian ekonomi jangka menengah pada surat utang negara. Respons alaminya adalah penarikan likuiditas (capital outflow) untuk mengamankan aset, yang kemudian menghantam IHSG sebagai pasar paling likuid.

Saham Pemberat: Dominasi Sektor Hiburan dan Infrastruktur

Struktur kejatuhan indeks pagi ini didominasi oleh saham-saham dengan bobot besar yang tumbang bersamaan. Lima emiten tercatat menjadi “beban” utama yang menyeret IHSG menjauh dari level psikologis 8.000.

PT MD Entertainment Tbk (FILM) memimpin daftar penurunan dengan menggerus indeks sebanyak 10,6 poin. Kejatuhan saham sektor hiburan ini memperlihatkan rapuhnya sentimen pada aset bervaluasi tinggi saat pasar sedang bearish.

Menyusul di posisi kedua, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) turut menyumbang penurunan sebesar 8,9 poin. Pelemahan pada emiten infrastruktur telekomunikasi ini menegaskan bahwa sektor defensif pun tidak kebal terhadap sentimen makro negatif.

PT Dwi Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mengalami tekanan jual hebat. Saham emiten Grup Sinarmas ini berkontribusi mengurangi indeks sebesar 8,52 poin, menambah panjang daftar blue chip yang terkoreksi.

Telkom dan GOTO Ikut Terperosok

Situasi makin pelik ketika saham-saham favorit ritel dan big cap telekomunikasi ikut kehilangan pijakan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) harus merelakan harga sahamnya turun dan mengurangi poin IHSG sebesar 4,22 poin.

Nasib serupa dialami sektor teknologi. PT GoTo Gojek Indonesia Tbk (GOTO) turut memperparah koreksi indeks dengan sumbangan penurunan sebesar 3,96 poin.

Kombinasi jatuhnya saham BUMN, teknologi, dan infrastruktur swasta secara serentak ini menciptakan efek bola salju. Likuiditas pasar menjadi kering di sisi beli (bid), sementara antrian jual (offer) terus menumpuk.

Antara Menahan atau Melepas Aset

Penurunan outlook utang negara oleh lembaga sekelas Moody’s adalah isu fundamental yang serius, bukan sekadar rumor gorengan bandar. Dampaknya berpotensi tidak selesai dalam satu sesi perdagangan saja.

Investor ritel disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan average down (membeli lagi saat harga turun) sebelum pasar menemukan titik keseimbangan baru. Risiko volatilitas masih sangat tinggi sepanjang hari ini.

Melihat data perdagangan pagi yang sangat agresif, langkah paling bijak bagi trader jangka pendek adalah wait and see atau mengamankan posisi tunai (cash). Memaksakan masuk pasar saat pisau sedang jatuh adalah strategi yang berisiko fatal bagi kesehatan finansial Anda.