IHSG Ambruk 4,15%, Saham BUMI, DEWA, BUVA, PTRO, dan UANG Kena ARB

IHSG Ambruk 4,15%, Saham BUMI, DEWA, BUVA, PTRO, dan UANG Kena ARB

Lantai bursa Indonesia mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Senin (2/2) pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ambruk lebih dari 4% yang memicu kepanikan investor di berbagai sektor.

Kondisi ini membuat sejumlah saham milik konglomerat ternama langsung menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB). Emiten dari Grup Bakrie, Happy Hapsoro, hingga Prajogo Pangestu menjadi sasaran aksi jual masif sejak pasar dibuka.

Rincian Data Penurunan IHSG dan Kapitalisasi Pasar

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan intraday hingga pukul 09.23 WIB menunjukkan IHSG anjlok sebesar 4,15%. Penurunan ini setara dengan kehilangan 345,96 poin yang menyeret indeks ke level 7.983.

Aktivitas pasar menunjukkan volume transaksi mencapai 15,16 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 866,77 ribu kali transaksi. Akibat guncangan ini, nilai kapitalisasi pasar menyusut drastis menjadi Rp14.395 triliun.

Rapor Merah Saham BUMI, DEWA, BUVA, hingga UANG

Grup Bakrie mengalami tekanan signifikan di mana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) longsor hingga ARB 14,73% ke level Rp220 pada pukul 09.17 WIB. Pada menit yang sama, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga terpuruk 14,81% ke harga Rp460.

Nasib serupa dialami emiten milik Happy Hapsoro, yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang menyentuh ARB 14,92% di harga Rp1.055. PT Pakuan Tbk (UANG) pun tidak terelakkan dari batas ARB 14,90% ke posisi Rp3.540.

Saham lain dari lingkaran ini, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), anjlok 15% ke harga Rp680. Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) ikut rontok sebesar 14,23% pada pukul 09.15 WIB.

Kejatuhan Saham Prajogo Pangestu dan Sektor Tambang

Imperium bisnis Prajogo Pangestu juga mengalami koreksi dalam. PT Petrosea (PTRO) menyentuh ARB ke level Rp6.000, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang anjlok 10% ke Rp1.620, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang terperosok 10,88% ke Rp1.925.

Kemerosotan ini terjadi seiring dengan anjloknya harga saham emiten tambang emas seperti ANTM, ARCI, dan BRMS secara berjamaah. Faktor eksternal berupa penurunan tajam harga emas di pasar spot menjadi pemicu utama aksi jual ini.

Di sisi lain, BEI juga tengah membekukan perdagangan 38 saham yang belum memenuhi aturan free float. Situasi pasar yang penuh tekanan ini membuat investor cenderung menjauhi aset berisiko pada awal pekan Senin (2/2).

Mau berita terbaru? Ikuti Jurnalzone.id di Google News Sekarang!