IHSG Ambles 14,59% Hanya dalam 4 Hari, Ada Apa Indonesia?

IHSG Hari Ini Anjlok

Pasar modal Indonesia sedang berada dalam fase kritis setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hampir 15% dalam akumulasi perdagangan sepekan terakhir. Puncaknya, pada perdagangan Kamis (29/1/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt akibat tekanan jual yang tidak terbendung.

Otoritas bursa menghentikan aktivitas pasar sekitar pukul 09.30 WIB setelah IHSG merosot tajam hingga 8% hanya dalam satu periode perdagangan pagi ini. Akibat koreksi beruntun tersebut, sepanjang pekan ini IHSG sudah terjun bebas sebesar 14,59% dan kini terpaksa parkir pada level 7.654,66.

Kondisi pasar terpantau sangat tertekan dengan rincian sebanyak 694 saham mengalami penurunan harga, berbanding terbalik dengan hanya 34 saham yang naik, dan 230 saham lainnya stagnan. Aktivitas transaksi di tengah kepanikan ini mencapai nilai Rp 10,78 triliun, yang melibatkan volume 12,07 miliar saham melalui 852.200 kali frekuensi transaksi.

Kejatuhan yang masif ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar Indonesia yang menguap hingga Rp 2.550 triliun dalam empat hari terakhir. Berdasarkan data perdagangan intraday hari ini, total kapitalisasi pasar kini tersisa di angka Rp 13.820 triliun.

Guncangan hebat di lantai bursa ini dipicu oleh akumulasi sentimen global, terutama peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai risiko investabilitas pasar saham Indonesia. MSCI menyoroti ketidakpastian investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham, meskipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan perbaikan minor pada data free float.

Dalam laporannya, MSCI menjelaskan bahwa pelaku pasar global sebenarnya mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai rujukan tambahan. Namun, mayoritas investor masih menyuarakan kekhawatiran signifikan karena kategorisasi pemegang saham di KSEI dinilai belum cukup andal untuk penilaian free float dan kelayakan investasi.

Selain faktor MSCI, pelaku pasar saat ini tengah mencermati hasil rapat FOMC The Fed serta rilis data neraca dagang Amerika Serikat yang berisiko memengaruhi fluktuasi dolar AS serta imbal hasil obligasi global. Sentimen negatif semakin dipertegas oleh langkah Goldman Sachs yang menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi underweight.

Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut memproyeksikan bahwa aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global masih akan terus berlanjut di pasar domestik. Goldman Sachs menilai pasar saham Indonesia sedang menghadapi hambatan struktural terkait kepemilikan saham yang menjadi beban (overhang) bagi kinerja indeks ke depan.

“Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporannya yang dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).