HUT ke-80 RI, BRIN Serukan Indonesia Jadi Pencipta Iptek Global

Meluiyah

Diterbitkan:

upacara brin

JURNALZONE.ID – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menegaskan bahwa kemerdekaan di era saat ini harus dimaknai sebagai kedaulatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pernyataan tersebut disampaikannya dalam amanat upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Kampus BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, pada Minggu (18/8/2025). Menurutnya, Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengguna, tetapi harus aktif sebagai pencipta iptek untuk menjawab tantangan global.

Fondasi Kedaulatan Bangsa

Laksana Tri Handoko menyatakan bahwa kedaulatan iptek merupakan fondasi utama bagi kedaulatan sebuah negara. Dalam menghadapi tantangan global yang kompleks seperti perubahan iklim, transisi energi, dan ketahanan pangan, riset dan inovasi yang terarah menjadi kunci utama.

“Kemerdekaan hari ini harus kita maknai sebagai kemampuan bangsa kita untuk semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan IPTEK dan juga inovasi yang strategis dan berdampak,” tuturnya.

Untuk mencapai hal tersebut, BRIN berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, membuka akses terhadap infrastruktur riset, serta mendorong penelitian yang relevan dengan kebutuhan strategis bangsa. Hal ini sejalan dengan tema HUT ke-80 RI, “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju,” yang visi besarnya adalah menjadikan Indonesia negara maju.

Momentum untuk Berlari dan Melompat

Dalam pidatonya, Handoko mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya sekadar berjalan, tetapi bergerak lebih cepat dalam membangun ekosistem riset dan inovasi. Ia menekankan bahwa Indonesia harus memiliki keberanian untuk membebaskan potensi sains dan teknologi dari berbagai hambatan agar dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kita tidak cukup berjalan! Kita harus berani berlari dan bahkan melompat,” tegas Handoko. Dari pernyataan itu, dijelaskan bahwa ajakan ini ditujukan untuk membangun budaya riset yang produktif, kolaboratif, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan.

“Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pengguna ilmu pengetahuan (iptek), tetapi juga harus aktif menjadi pencipta iptek untuk masyarakat global,” ujar Handoko.

Apresiasi dan Regenerasi Talenta

Pada kesempatan tersebut, BRIN turut memberikan apresiasi tinggi kepada 1.239 sivitas yang menerima Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya atas pengabdian mereka selama 10, 20, hingga 30 tahun. “Penghargaan ini adalah pengakuan atas loyalitas, integritas, dan dedikasi dalam mengabdi kepada IPTEK dan negara kita,” urainya.

Menutup amanatnya, Handoko menaruh harapan besar pada generasi muda sebagai motor penggerak iptek di masa depan. Ia menegaskan bahwa tugas bersama saat ini adalah menyediakan ekosistem yang mendukung talenta muda untuk bereksperimen dan berinovasi.

“Kemerdekaan memberi hak dan kesempatan untuk menciptakan proposal. Lalu kewajiban kita bersama adalah menyediakan dukungan, fasilitas, dan ruang bereksperimen yang memadai,” pungkasnya.

Selain itu, dalam rangkaian acara juga diumumkan penyelenggaraan kejuaraan BRIN Sport Challenges 2025 yang diikuti oleh sivitas BRIN antar unit kerja.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini