Hubungan Vinicius Jr dan Xabi Alonso Retak Usai Insiden El Clasico

Xabi Alonso

JURNALZONE.ID – Ketegangan dilaporkan kian terasa antara bintang Real Madrid, Vinicius Junior, dan pelatih kepala, Xabi Alonso. Reaksi frustrasi Vinicius saat diganti dalam duel El Clasico akhir pekan lalu disebut bukan sekadar emosi sesaat, melainkan cerminan dari keretakan hubungan keduanya.

Meski belum ada tanda pemberontakan terbuka, sumber di sekitar klub menyebut bahwa situasi ini memerlukan penanganan yang hati-hati.

Puncak Frustrasi di El Clasico

Insiden di laga melawan Barcelona menjadi sorotan utama. Saat ditarik keluar lapangan, Vinicius dilaporkan sempat melontarkan kalimat emosional yang menunjukkan kegusarannya.

“Saya sebaiknya pergi,” ucap Vinicius, seperti dilaporkan sumber tersebut.

Ucapan itu diyakini bukan tanpa alasan. Pikiran untuk hengkang disebut sudah sempat terlintas di benak sang pemain sejak akhir bursa transfer lalu. Hal ini dipicu oleh perdebatan panas dengan Alonso menjelang laga Piala Dunia Antarklub melawan PSG. Momen itu disinyalir mengubah pandangan Vinicius, yang merasa tidak lagi menjadi pemain yang ‘tak tersentuh’ di skuad.

Perbedaan Filosofi: Kebebasan vs Struktur

Perubahan atmosfer di Real Madrid terasa jelas sejak kedatangan Xabi Alonso menggantikan Carlo Ancelotti. Di era Ancelotti, Vinicius dikenal mendapatkan kebebasan penuh untuk berkreasi dan bermain mengandalkan naluri murninya.

Kini, situasi berbalik drastis di bawah Alonso. Pelatih asal Basque itu datang dengan misi menanamkan konsistensi dan tanggung jawab kolektif. Pola permainan Madrid kini jauh lebih terstruktur, disiplin, bahkan dianggap “rigid” (kaku) oleh sebagian pemain. Setiap pemain memiliki posisi dan tugas yang jelas.

Bagi Alonso, struktur adalah fondasi utama untuk membangun kembali DNA juara Real Madrid setelah musim lalu dianggap kurang stabil. Namun, transisi ini diakui tidak mudah bagi beberapa pemain yang merasa kehilangan ruang untuk improvisasi, termasuk Vinicius.

Status Bintang Tak Jamin Posisi Inti

Pertikaian terbuka antara Vinicius dan Alonso memang belum terjadi, namun suasananya dilaporkan kian mendingin. Momen krusial lainnya terjadi jelang semifinal Piala Dunia Antarkl ub, ketika Vinicius diberitahu bahwa ia tidak akan menjadi starter.

Sang winger dilaporkan tidak menerima keputusan itu dengan baik, namun Alonso tetap tegas pada pendiriannya. Sejak saat itu, Alonso menegaskan bahwa tidak ada pemain yang dijamin selalu menjadi starter. Ia juga mulai lebih sering merotasi Vinicius dengan Rodrygo di posisi sayap kiri.

Pendekatan metodis Alonso ini mengirim pesan jelas bahwa tidak ada pemain yang lebih besar dari sistem. Di sisi lain, Vinicius, yang terbiasa menjadi pusat perhatian dan mendapat perlakuan khusus dari Ancelotti, kini harus belajar beradaptasi bahwa bakat besar tak menjamin perlakuan istimewa di era Alonso.

Gencatan Senjata Sementara

Pasca insiden El Clasico, Vinicius telah mengeluarkan pernyataan maaf kepada klub, rekan setim, dan suporter. Namun, menariknya, ia dilaporkan tidak menyebut nama Xabi Alonso dalam permintaan maaf tersebut.

Meski begitu, Alonso diyakini tetap menerima permintaan maaf itu demi menjaga keseimbangan ruang ganti. Sang pelatih sadar ia membutuhkan daya ledak Vinicius, sama seperti Vinicius membutuhkan struktur tim yang solid. Situasi ini kini lebih mirip “gencatan senjata” daripada penyelesaian masalah, menandakan hubungan keduanya belum pulih sepenuhnya.