JURNALZONE.ID – Eredivisie, FC Utrecht berhasil lolos dari lubang jarum dan mengamankan satu poin dramatis saat bertandang ke markas Telstar dalam lanjutan kompetisi. Bertanding di BUKO Stadion, Velsen, Minggu sore waktu setempat, pasukan Ron Jans tampil jauh di bawah performa terbaiknya dan harus puas dengan hasil imbang 1-1 berkat gol keberuntungan di masa injury time.
Performa Mengecewakan Tim Tamu
FC Utrecht, yang di atas kertas lebih diunggulkan, justru tampil sangat mengecewakan sepanjang pertandingan. Setelah babak pertama yang berakhir tanpa gol dengan minim peluang, gawang Utrecht justru bobol lebih dulu pada menit ke-56.
Soufiane Hetli berhasil memanfaatkan situasi dan melepaskan tembakan yang sempat mengenai Horemans, membuat kiper Barkas tidak berdaya dan mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.
Tertinggal satu gol, Utrecht mencoba bangkit namun kerap kali menemui jalan buntu. Berdasarkan statistik OPTA, babak pertama laga ini mencatatkan angka Expected Goals (xG) yang sangat rendah, yakni hanya 0,47 gabungan kedua tim, menandakan minimnya kreativitas serangan. Utrecht bahkan nyaris kebobolan gol kedua oleh Patrick Brouwer pada menit ke-59, namun dianulir karena offside tipis setelah peninjauan ulang.
Analisis Jalannya Pertandingan
Permainan Utrecht dinilai lambat dan mudah ditebak oleh lawan. Kurangnya variasi serangan membuat Telstar, yang berstatus sebagai tim papan bawah (hekkensluiter), mampu memberikan perlawanan sengit.
“Ini adalah duel yang biasa-biasa saja sejauh ini. Di mana FC Utrecht hanya menemukan satu celah sesaat sebelum jeda dan Telstar berhasil melakukannya beberapa kali. Untuk mengklaim tiga poin, FC Utrecht harus mengalirkan bola lebih cepat dan lebih sering memilih kejutan. Permainan terlalu mudah ditebak dan tidak cukup meyakinkan.”
Dari analisis tersebut, terlihat bahwa The Domstedelingen kesulitan mengembangkan permainan. Beberapa pemain kunci seperti Sébastien Haller, Yoann Cathline, dan Rodríguez yang diturunkan sejak awal terlihat apatis dan minim inisiatif. Bahkan, frustrasi pemain terlihat dari banyaknya kartu kuning yang diterima, termasuk oleh Haller dan Alonzo Engwanda.
Gol Penyelamat di Menit Akhir
Keberuntungan akhirnya memihak FC Utrecht pada menit ke-90+3. Can Bozdogan, yang masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-85 menggantikan Gjivai Zechiël, menjadi pahlawan penyelamat. Tembakan Bozdogan sebenarnya tidak terlalu berbahaya, namun kiper Telstar, Koeman, salah mengantisipasi arah bola sehingga bola bersarang di sudut gawang.
Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi Telstar yang merasa “dicuri” kemenangannya, sementara Utrecht bisa bernapas lega meski tampil buruk (“zeer zwak”). Setelah laga ini, fokus FC Utrecht akan langsung beralih ke laga tandang Eropa melawan Real Betis di Sevilla pada Kamis mendatang.