JURNALZONE.ID – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan dinamika yang menarik di tengah guncangan hebat yang melanda pasar modal Indonesia pada perdagangan Jumat, 06/02/2026. Sebagai lokomotif bursa, pergerakan BBCA menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar dalam menentukan strategi di tengah tren bearish.
Hingga pukul 11.29 WIB, emiten perbankan swasta terbesar ini terkoreksi 1,92% atau turun 150 poin menuju level Rp7.650. Penurunan ini membawa harga saham menjauh dari posisi pembukaan di level Rp7.700, bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di angka Rp7.600.
Meskipun grafiknya menukik, volatilitas ini justru memicu aktivitas transaksi yang cukup tinggi dengan nilai kapitalisasi pasar yang tetap kokoh di angka Rp933,62 triliun.
Strategi Akumulasi di Harga Diskon
Koreksi tajam yang dialami BBCA nampaknya tidak membuat nyali para pemodal besar menciut. Sebaliknya, data perdagangan mencatat adanya aksi beli bersih atau net buy senilai Rp9,2 miliar pada periode perdagangan pagi ini.
Aksi serok bawah ini menandakan adanya kepercayaan pasar bahwa pelemahan yang terjadi bersifat temporer dan lebih dipengaruhi oleh sentimen makro IHSG yang jatuh hingga 2%. Investor institusi cenderung memanfaatkan momentum ini untuk melakukan rebalancing portofolio pada harga yang dianggap lebih terdiskon.
Secara fundamental, BBCA masih menawarkan daya tarik melalui Rasio P/E yang berada di level 16,39. Angka ini memberikan gambaran valuasi yang masih cukup rasional bagi perbankan dengan tingkat efisiensi setinggi BCA.
Menimbang Imbal Hasil Dividen dan Batas Aman
Bagi investor jangka panjang, penurunan harga ke level Rp7.650 secara otomatis meningkatkan daya tarik imbal hasil dividen atau dividend yield. Saat ini, BBCA mencatatkan yield sebesar 3,99% dengan jumlah dividen triwulanan di angka 76,31.
Jika membandingkan dengan rentang harga 52 minggu terakhir, posisi saat ini sebenarnya masih berada dalam jalur yang terjaga. Saham BBCA tercatat memiliki rekam jejak harga tertinggi di Rp9.800 dan terendah di Rp6.375 dalam satu tahun terakhir.
Keberadaan support kuat di level Rp7.600 menjadi benteng pertahanan psikologis. Selama harga mampu bertahan di atas titik tersebut, potensi untuk melakukan rebound pada sesi kedua atau pekan depan masih terbuka lebar, mengingat fundamental perusahaan yang tidak mengalami perubahan signifikan secara internal.
Proyeksi Pasar dan Kewaspadaan Sesi II
Menjelang istirahat siang, tekanan jual nampaknya mulai sedikit melandai namun tetap perlu diwaspadai. Pelaku pasar perlu memantau volume transaksi di sesi kedua untuk melihat apakah aksi akumulasi Rp9,2 miliar tersebut akan berlanjut atau justru berbalik menjadi aksi jual jika IHSG gagal berbalik arah.
Posisinya sebagai saham blue chip membuat BBCA tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mengutamakan keamanan aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Fluktuasi hari ini menjadi pengingat bahwa bahkan saham paling stabil sekalipun tetap memiliki risiko pasar yang dinamis.