Harga perak di pasar global melanjutkan tren kenaikan impresifnya dan berhasil mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan hari ini, Rabu (15/10/2025). Harga komoditas ini terpantau menembus level psikologis $52 per troy ounce, didorong oleh kombinasi faktor ketidakpastian geopolitik, permintaan industri yang solid, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di Amerika Serikat.
Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga perak per gram cenderung bergerak stabil. Dilansir dari berbagai sumber data perdagangan, harga perak berada di kisaran Rp27.839 per gram, tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Faktor Pendorong Reli Harga Global
Analis pasar menyoroti beberapa katalis utama di balik lonjakan harga perak di arena internasional. Faktor paling dominan adalah meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven) di tengah memanasnya suhu geopolitik dan ancaman ketidakpastian ekonomi global.
Permintaan ini diperkuat oleh kekhawatiran investor terhadap risiko defisit fiskal dan potensi penutupan layanan pemerintah (shutdown) di AS. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan asetnya ke logam mulia seperti perak dan emas untuk melindungi nilai kekayaan mereka.
Keseimbangan Pasokan dan Permintaan Industri
Selain sebagai aset investasi, peran ganda perak sebagai komoditas industri vital juga menjadi faktor krusial. Pasokan perak di pasar global dilaporkan semakin terbatas, sementara permintaan dari sektor industri terus meningkat.
“Permintaan yang tinggi dari industri, khususnya dari sektor energi baru terbarukan seperti panel surya (fotovoltaik) dan komponen kendaraan listrik, menciptakan tekanan pada sisi pasokan,” sebut laporan dari Trading Economics. Keterbatasan suplai ini secara alami mendorong harga perak ke level yang lebih tinggi untuk mencapai titik keseimbangan baru.
Sentimen Suku Bunga The Fed
Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), turut memberikan angin segar bagi harga perak. Kebijakan moneter yang lebih longgar cenderung melemahkan nilai dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi, membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti perak menjadi lebih menarik.
Secara historis, harga perak dikenal lebih responsif dan cenderung naik lebih cepat dibandingkan emas ketika siklus penurunan suku bunga dimulai. Sifatnya yang lebih fluktuatif ini disebabkan oleh perannya yang unik, baik sebagai logam mulia maupun bahan baku industri strategis.