Harga Emas Dunia Turun Akibat Sentimen The Fed

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Harga Emas Dunia

JURNALZONE.IDHarga emas dunia mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (31/10/2025), menutup pekan dengan tren negatif dua kali berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian baru mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas di pasar spot ditutup di level US$4.001,78 per troy ons. Angka ini turun 0,53% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Secara kumulatif dalam sepekan, logam mulia ini telah anjlok 2,67%.

Tekanan jual terhadap emas meningkat tajam setelah muncul pernyataan hawkish dari pejabat The Fed, meskipun bank sentral itu baru saja memangkas suku bunganya pada Rabu (29/10/2025).

Pejabat Fed Tahan Suku Bunga

Pemicu utama kejatuhan emas adalah pernyataan dari Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack. Ia secara terbuka menentang adanya pemangkasan suku bunga lanjutan untuk sisa tahun ini. Hammack menilai inflasi masih terlalu tinggi sehingga kebijakan moneter yang ketat perlu dipertahankan demi stabilitas harga.

Tai Wong, seorang pedagang logam independen, menyoroti dampak pernyataan tersebut. Menurutnya, Hammack menjadi pejabat Fed regional ketiga yang menentang penurunan suku bunga lebih lanjut saat ini.

“Hammack sedang gencar-gencarnya mengincar emas karena ia menjadi Presiden Fed regional ketiga yang secara terbuka menentang penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahap ini mengingat inflasi yang tinggi. Hammack akan menjadi pemilih FOMC pada 2026 dan menunjukkan bahwa pasar terlalu optimistis dalam memperkirakan suku bunga yang lebih rendah,” ujar Tai Wong, dikutip Sabtu (1/11/2025).

Komentar Hammack memperkuat sinyal hawkish yang sebelumnya disampaikan Ketua The Fed Jerome Powell pasca-pemangkasan suku bunga hari Rabu. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap penurunan lanjutan menguap. Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga pada Desember kini merosot menjadi 63%, dari level di atas 90% pada awal pekan.

Prospek Jangka Panjang vs Geopolitik

Harga emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, cenderung kehilangan daya tariknya ketika suku bunga bertahan tinggi.

Meski demikian, secara tahunan, logam mulia ini masih mencatat kenaikan impresif 53%. Bahkan, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$4.381,21 per troy ons pada 20 Oktober 2025.

Bank investasi Morgan Stanley dalam riset terbarunya menilai prospek emas tetap positif ke depan. Mereka memperkirakan harga emas dapat mencapai rata-rata US$4.300 per troy ons pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif tahun depan, peningkatan arus masuk ETF, serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral global.

Faktor lain yang turut menekan emas datang dari sisi geopolitik. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (30/10/2025) mengumumkan akan memangkas tarif terhadap China dari 57% menjadi 47%.

Langkah ini, yang disebut sebagai imbalan atas penindakan perdagangan fentanil dan pembelian kedelai AS, dinilai meredakan ketegangan dagang kedua negara. Namun, turunnya risiko global justru mengurangi permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini